Thursday, June 26, 2008

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on April 29th, 2008

Kebenaran sebagai Roh
Roh Kebenaran merupakan suatu entitas Roh yang tidak memiliki substansi, teksture dan warna. Ia tidak bisa dijelaskan atau diilustrasikan. Penjelasan atau ilustrasi tentang Roh Kebenaran hanyalah bayangan pikiran, tetapi bukan Roh Kebenaran yang sesungguhnya.

Kalau kita hidup dalam Kebenaran, maka kita hidup bukan hanya dalam ide tetapi dalam Roh. Ia bukan konsep, teori, ide. Roh Kebenaran atau Kebenaran yang Hidup adalah seperti halnya Cinta, Damai, Keheningan, Solidaritas, Keadilan. Ia tidak bisa dijangkau dengan pikiran, emosi, indra atau tubuh jasmani kita. Namun Ia bisa dialami secara langsung. Ia bisa dilihat, didengar atau disentuh dengan Tubuh Rohani kita. Tubuh jasmani kita butuhkan agar bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Tetapi tubuh jasmani tidak bisa dipakai untuk berkomunikasi dengan alam roh. Setiap orang mempunyai roh. Roh manusia inilah yang mampu berkomunikasi dengan alam roh di dalam. Dialah yang mampu melihat dan mengenal Roh Kebenaran. “Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan (akan) diam di dalam kamu.” (Yoh 14:17)

Sejak abad pertengahan, Gereja Katholik meyakini bahwa roh manusia sudah menyatu dengan tubuh jasmani ketika bayi berumur 40 hari dalam kandungan. Roh manusia individual ini kekal adanya. Ia merupakan pancaran abadi dari Roh Allah. Ia tidak lahir dan tidak mati. Sementara tubuh jasmani pernah dilahirkan dan pasti akan mengalami kematian. Tubuh rohani berada di luar arus dunia, sedangkan tubuh jasmani berada di dalam arus dunia.

Poros Arus Dunia
Orang-orang yang hidup dalam arus dunia, tidak akan bisa melihat Roh Kebenaran. Arus dunia adalah arus kelahiran dan kematian. Semua yang pernah dilahirkan akan mengalami kematian. Indra, pikiran dan emosi kita pernah dilahirkan dan karenanya akan musnah dalam waktu. Hal-hal tersebut bisa menjadi poros kehidupan harian. Itulah poros dari arus dunia.

Dengan indranya, orang mampu menikmati keindahan di “dunia luar”. Orang bisa menikmati keindahan sekuntum bunga, pemandangan di gunung atau pantai misalnya. Namun berhentinya indra luar, membuat tubuh rohani mampu menangkap keindahan di “dunia dalam”. Kualitas Keindahan di dalam jauh lebih kuat daripada keindahan di luar. Keindahan di dalam bisa mempengaruhi keindahan di luar, tapi keindahan di luar tak bisa mempengaruhi Keindahan di dalam. Yang di dalam bisa sama dengan yang di luar tetapi yang di luar tidak sama dengan di dalam.

Dengan pikirannya, orang menjalani hidup harian. Pikiran itu menilai, mengadili, mengharuskan, memilah-milah, membanding-bandingkan, membenarkan, menyalahkan, merumuskan, memvisualisasi, berimaginasi, berasosiasi, dst. Namun roda pikiran tak akan bisa bergerak kalau tidak ada kesadaran. Namun kesadaran bekerja tidak tergantung pada pikiran. Pikiran yang menggerakkan hidup menjadikan kehidupan miskin dan tidak dalam. Pikiran, betapapun dahsyat dan berguna bagi kehidupan, masih belum banyak artinya tanpa kualitas kesadaran.

Dengan emosinya, orang mampu mengalami suka dan duka, konflik dan damai, kuat dan lemah, sehat dan sakit. Emosi menenggelamkan orang masuk arus dunia. Di tengah konflik hidup harian, kadang kala orang mengalami damai, ketenangan dan cinta. Itu semua bersumber dari dalam. Namun begitu menjadi pengalaman, pikiran lalu mengulang-ulang sebagai ingatan masa lalu dan menimbulkan kesenangan dan kepuasan. Kesenangan dan kepuasan yang diulang-ulang akan menimbulkan kebosanan.

Latihan Menghentikan Arus Dunia
Untuk bisa melihat dan mengenal Roh Kebenaran, orang musti ke luar dari arus dunia. Roh Kebenaran datang ketika arus dunia dalam diri kita berhenti, ketika indra, pikiran dan emosi berhenti. Orang begitu mudah mengidentikkan diri dengan indra, pikiran dan emosinya. Maka berlatih melepaskan diri dari arus indra, pikiran dan emosi akan menolong untuk menyentuh tubuh roh di dalam.

Anda bisa berlatih menghentikan arus gerak dunia kapan saja dan di mana saja. Saat-saat anda merasa terjebak pada tubuh, pikiran dan emosi, saat-saat itu paling baik bagi anda untuk berhenti. Latihlah Kesadaran Murni anda dengan pendarasan kata-kata berikut seirama nafas anda.

Tubuh (mata, telinga, hidung, lidah, tangan, kaki, dst) ini bukan aku

Aku bukan tubuh ini
Aku tidak terjebak pada tubuh ini
Aku hidup tanpa batas
Bersama Roh Kristus Tuhanku

Pikiran (penilaian, pembenaran, pembandingan, dst) ini bukan aku

Aku bukan pikiran ini
Aku tidak terjebak pada pikiran ini
Aku hidup tanpa batas
Bersama Roh Kristus Tuhanku

Perasaan (luka, benci, kacau, damai, gembira, dst) ini bukan aku

Aku bukan perasaan ini
Aku tidak terjebak pada perasaan ini
Aku hidup tanpa batas
Bersama Roh Kristus Tuhanku.

Roh Kebenaran Bergerak dari Saat ke Saat
Hidup dalam Kebenaran atau Roh Kebenaran adalah Keberadaan atau cara hidup di mana poros kehidupan sehari-hari berada di luar arus dunia. Roh Kebenaran atau Keberadaan itu sendirilah yang menjadi porosnya.

Roh Kebenaran itu bekerja setiap saat di luar waktu. Ia bukan kenangan masa lalu yang bisa dihadirkan berulang-ulang. Yang bisa dihadirkan hanyalah kenangan tentang Roh Kebenaran, tetapi bukan Roh Kebenaran itu sendiri. Ia bukan pula harapan dari masa depan. Yang bisa diharapkan dari masa depan hanyalah proyeksi pikiran. Roh Kebenaran merupakan realitas sekarang dan bergerak dari saat ke saat.

Ketika kita bergerak di luar arus dunia dari saat ke saat, maka Roh Kebenaran datang mendekat dan Tubuh Rohani kita akan mampu berkomunikasi denganNya. Pada saat kita sungguh sadar bahwa kita terjebak pada yang serba terbatas, saat itu pula kita menyentuh yang Tak-Terbatas. Pada saat kita sungguh sadar bahwa kita hanya digerakkan oleh yang dikenal, saat itu pula kita mengenal apa yang Tak-Dikenal. Pada saat kita sungguh sadar bahwa kita terpenjara dalam kepalsuan, saat itu pula kita melihat Kesejatian. Pada saat kita sungguh sadar bahwa segala sesuatu hanya sementara, saat itu pula kita menyentuh Keabadian.

Demikianlah Roh Kebenaran bergerak dari saat ke saat di luar waktu dan selalu baru. “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran…” (Yoh 16:13)*

Read More..

Thursday, June 19, 2008

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on April 21st, 2008

Seperti apakah Rumah Bapa di Surga atau Rumah Abadi? Orang-orang yang pernah mati, atau
yang pernah mengalami jeda kehidupan, berkisah bahwa mereka menemukan suatu tempat yang luas tanpa batas. Di sanalah mereka mengalami ketenangan, damai, cinta tanpa batas.

Kesaksian mereka cocok dengan kesaksian Yesus. “Janganlah gelisah hatimu… Di rumah BapaKu, banyak tempat tinggal.” (Yoh 14:1-2a) Di rumah Bapa, ada ruang yang luas tanpa batas. Cukup untuk semua umat manusia. Di sanalah ketenangan, damai, cinta tanpa batas.

Jalan ke Rumah Abadi
Semua orang pasti akan sampai di rumah Bapa atau Rumah Abadi, kecuali mereka yang menolak Roh Kebenaran. Roh Kebenaran itulah yang akan menuntun setiap insan menuju ke Rumah Abadi.

Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Roh Kristus atau Roh Kebenaran itulah yang akan menuntun setiap orang ke rumah Bapa. (Bdk Yoh 14:6) Jalan di bumi ini selalu menghubungkan dari titik berangkat yang satu ke titik tujuan yang lain. Namun jalan ke Rumah Bapa tidak punya titik tujuan lain. Jalan itu adalah tujuan itu sendiri. Itulah yang dimaksud Yesus “Akulah Jalan…” Ia adalah Jalan sekaligus Tujuan. Yesus dan Bapa adalah satu. Barangsiapa telah melihat Yesus, telah melihat Bapa (Yoh 14:9)

Dialah Kebenaran, Kebenaran yang Hidup (the Living Truth) atau Kristus yang Hidup (the Living Christ). Tidak ada agama di atas Kebenaran ini. Roh Kebenaran itu akan membimbing kita kepada kepenuhan Kebenaran itu, bukan kesempurnaan ritual agama, dogma, konsep, atau ajaran. Itulah yang sungguh-sungguh menghidupkan.

Kalau kita sudah bisa melihat Jalan itu, maka kita akan bisa menyentuh Kebenaran dan Hidup. Tentu saja kita tidak bisa melihat dan menyentuh secara fisik, melainkan secara roh. Dalam diri kita ada roh. Roh kita bisa berkomunikasi dengan Roh Kebenaran. Seperti menyelaraskan frekuensi gelombang, kita bisa menyelaraskan gerak roh kita dengan gerak Roh Kebenaran. Roh manusia yang sudah matang akan mampu mengenali Roh Kebenaran tanpa banyak kesulitan. Roh seorang manusia yang belum matang, masih terus akan mengembara galam kegelisahan. Dan kegelisahan ini baru akan berhenti total saat orang sampai di rumah Bapa.

Di Manakah Rumah Bapa Berada?

Dengan melihat Yesus, kita mengenal Bapa: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal BapaKu. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh 14:7)

Yesus dan Bapa adalah satu. Tubuh Kristus adalah kediaman Bapa dan Tubuh Bapa adalah kediaman Kristus. Bagi kita, Tubuh Kristus adalah rumah kita dan tubuh kita adalah Rumah Kristus.

Menempatkan Kristus atau Bapa jauh di atas dan kita jauh di bawah tidak akan membantu menyentuh Kristus yang Hidup dalam diri kita. Rumah Kristus atau Rumah Bapa sudah begitu dekat dengan kita. Ia sudah berada dalam rumah kita dan kita sudah berada dalam Rumah Bapa. Roh Kristus sendiri yang akan menuntun roh kita untuk masuk di kediamanNya.

Kapankah kita sampai ke Rumah Abadi?

Semua orang pasti akan sampai di rumah Bapa. Masalahnya adalah waktu: kapan orang dapat sampai ke Rumah Abadi? Anda pikir 10 atau 50 tahun lagi saat anda mati? Apakah setelah mati, otomatis anda bisa masuk Rumah Abadi? Kalau tidak, berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk berjalan masuk ke Rumah Abadi: 100 tahun, 1.000 tahun?

Kalau kita mencari Kristus atau Bapa dalam waktu, kita tidak akan menemukan. Kita berharap sampai di Rumah Bapa nanti setelah mati. Tetapi saat nanti ditentukan oleh saat sekarang. Kalau sekarang kita tidak mengenal Kristus yang hidup, bagaimana kita menemukan Jalan ke Rumah Bapa? Kalau saat ini kita mengenal Kristus, saat ini pula kita tahu Jalan ke Rumah Bapa.

Hidup dalam Roh Kristus sekarang bukan hanya menentukan hidup dalam Rumah Abadi nanti, tetapi juga menentukan kualitas pencapaian hidup yang sekarang. “Barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.” (Yoh 14:12) Setiap roh manusia mempunyai misi hidup masing-masing. Ia ditetapkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar sekarang ini juga sejauh bersatu dengan Roh Kristus.

Latihan Berjalan ke Rumah Bapa

Marilah kita berlatih berjalan sambil menyelaraskan frekuensi gelombang roh kita dengan frekuensi gelombang Roh Kristus. Mari kita belajar melakukan meditasi jalan dengan mendaraskan dalam hati kata-kata berikut ini. Lakukanlah pendarasan ini seirama dengan setiap nafas dan langkah anda sampai anda tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Berjalanlah dengan pelan dan relaks. Satukan kesadaran, irama nafas dan langkah anda.

Aku melangkah
Aku sudah sampai
Kristus adalah rumahku
Aku adalah rumah Kristus

Aku melangkah
Aku sudah sampai
Bapa adalah Rumah Kristus
Kristus adalah Rumah Bapa

Aku melangkah
Aku sudah sampai
Bapa adalah rumahku
Aku adalah rumah Bapa

Aku melangkah
Aku sudah sampai.


Anda bisa berlatih meditasi jalan saat anda datang atau pulang dari gereja atau saat anda berjalan untuk menyambut Tubuh Kristus. Anda bisa berlatih saat pulang ke rumah habis kerja atau saat pergi bekerja. Kapan saja dan di mana saja anda bisa berlatih. Setiap kali kita melangkah, kita sudah mencapai tujuan perjalanan kita. Dalam setiap langkah, kita menemukan ketenangan, damai, cinta tanpa batas.*

Read More..

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on April 12th, 2008

Berbagai reaksi muncul ketika orang didera oleh kesedihan. Ada bagian dari diri kita yang menggerakkan kita untuk lari. Kita lalu mencari obat penenang. Ia bisa bernama obat bius, obat intelektual, obat ritual, obat kedokteran, obat kesenangan, dst. Ada bagian dari diri kita yang ingin melawan. Dan ada juga bagian dari diri kita yang ingin mengintip kesedihan dengan mencari berbagai pembenaran, penyalahan, pembandingan, penilaian, dst.

Semua daya upaya kita untuk lari, melawan dan memahami kesedihan tidak membuat kesedihan berakhir. Sedih seperti halnya gembira adalah sebuah fakta kehidupan. Ia adalah bagian dari hidup. Karenanya segala daya upaya untuk lari atau melawan merupakan bentuk lain pelarian dari hidup.

Dalam penampakan diri di jalan ke Emaus, Yesus mengajak dua orang muridNya untuk kembali berjalan bersama sedih. Dua orang murid Yesus ini sedang mengalami kekecewaan, sedih dan putus asa. Mereka sedih karena Yesus yang mereka harap-harapkan akan menjadi pembebas bangsa Israel, dibunuh oleh para pemuka agama dan pemimpin Yahudi. Perjalan ke Emaus merupakan bentuk pelarian dan perlawanan terhadap fakta kesedihan yang mereka hadapi. Di tengah perjalanan menuju ke kampung Emaus itulah Yesus menampakkan diri sebagai seorang Musafir. Ia menemani dua muridNya ini berjalan bersama sedih. Mereka mengalami bahwa hatinya berkobar-kobar saat Sang Musafir hadir dan menjelaskan misteri sengsara dan kebangkitanNya. Mereka akhirnya mengenali bahwa Sang Musafir yang menemaninya tidak lain adalah Yesus sendiri. (Bdk Lukas 24:13-35)

Yesus bertindak bukan hanya seperti seorang therapist, tetapi terlebih sebagai transformist. Ia bukan hanya menolong muridNya untuk keluar dari kesedihan, tetapi lebih jauh mengtransformir kesedihan dan mengalirkan kekuatan kebangkitan. Murid-muridNya bukan hanya disembuhkan dari sedih, tapi mampu berjalan mengatasi dualitas sedih dan gembira, suka dan duka, sengsara dan bahagia.

Kisah dua murid Emaus adalah gambaran kisah umat manusia. Kalau kita rela hati untuk berjalan bersama sedih tanpa lekat padanya, maka kita akan tahu apa artinya hidup melampaui dualitas sedih dan gembira. Sesuatu atau seseorang yang hidup dalam diri kita, Kristus yang Hidup, Sang Musafir itu, akan mengobarkan hati dan budi, memberikan pencerahan-pencerahan yang tidak mampu ditangkap oleh kecerdasan otak biasa. Lalu kita akan melihat bukan saja bahwa kesedihan kita berhenti total, tetapi lebih jauh kita digerakkan oleh kekuatan lain yang mengatasi dualitas sedih dan gembira.

Sekarang kontemplasikan kisah perjalanan dua murid ke Emaus sebagai kisah perjalanan anda sendiri.
Setelah anda duduk tenang dan relaks, pertama-tama, sadarilah hadirnya tamu dalam hidup anda. Namanya sedih. Ia seringkali datang dan membuat anda menangis, tak berdaya, gelisah, putus asa, dst. Anda hanya perlu menyelami sedih sedalam-dalamnya tanpa berpikir, membuat penilaian, menganalisa dst. Hanya menatap dalam-dalam. Menyelami sedalam-dalamnya. Sadarilah saat munculnya gerakan-gerakan batin untuk melawan atau lari daripadanya dan kembalilah untuk menatap dalam-dalam.

Kemudian sadarilah bahwa dalam diri anda juga hadir Sang Musafir yang tidak anda kenal. Ia, bagi dua murid Emaus, tidak lain adalah Yesus yang bangkit. Bagi anda, Ia adalah Kristus yang hidup. Biarkan Ia bersama anda menatap sedih sedalam-dalamnya. Kini dengarkan Sang Musafir itu berbisik, “Halo Sedih, apa khabar? Aku datang khusus bagimu. Ijinkan Aku menemanimu.”

Rasakan dalam-dalam Sang Musafir yang tak-dikenal dalam diri anda sedang menemani tamu yang anda kenal yakni sedih. Biarkan sedih berkisah tentang dirinya dan sadarilah Sang Musafir itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah sedih cukup puas bertutur, kini dengarkan Sang Musafir bertutur tentang DiriNya dan lihatlah sedih mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kini sadarilah gerakan halus Sang Musafir yang seperti Cahaya melingkupi anda secara sempurna. Anda ditarik masuk lebih dalam pada Titik Cahaya terdalam pada diri anda. Dari Titik Cahaya itulah kini anda memandang segala sesuatu dari perspektif yang berbeda. Anda mampu memandang realitas di balik dualitas sedih dan gembira, suka dan duka. Kini anda memandang bahwa sedih atau duka tidak lagi membuat anda menangis dan tak berdaya. Justru sebaliknya, anda melihatnya dari perspektif yang betul-betul baru.

Tutuplah kontemplasi anda dengan berdialog dengan Sang Musafir itu. Ungkapkan syukur dan terimakasih karena telah hadir dan mengubah hidup anda. Sedih dulu datang dan kini telah pergi. Tapi Sang Musafir hidup dan tinggal menetap dalam diri anda. Kini anda bebas melanjutkan perjalanan anda bersama Sang Musafir yang hadir seperti Titik Cahaya. Kalau sedih suatu saat masih datang, anda tahu bagaimana anda akan berjalan bersamanya. Ia yang datang pasti akan pergi. Tetapi Titik Cahaya tidak pernah datang dan tidak akan pergi; Ia tinggal menetap dalam diri anda.

Luangkan waktu dan rasakan secukupnya Keheningan yang melingkupi anda. Anda tidak merasa perlu lagi bertutur kata. Hanya diam dengan batin yang betul-betul hening bersama Titik Cahaya yang menetap pada diri anda.*

Read More..

Monday, June 16, 2008

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on April 4th, 2008

Kelahiran dan Kematian Yesus
Darimanakah Yesus datang sebelum dilahirkan dan kemana Yesus pergi setelah kematian? Marilah kita menatap dalam-dalam pertanyaan ini.

Orang bilang bahwa Yesus pergi ke surga setelah kematian; dari surga juga ia datang sebelum dilahirkan. Jadi sejak semula Yesus tetap hidup, juga setelah kematian. Ia sudah datang sebelum dilahirkan dan tidak pergi setelah kematian. Ia tidak datang dan tidak pergi; Ia tidak lahir dan tidak mati.

Pada tahun 1 masehi, Yesus dilahirkan di Bethlehem, di tanah Yudea. Ia lahir dari seorang perawan bernama Maria. Itulah yang membuatnya sungguh sebagai Anak Manusia. Ia juga lahir dari benih Roh Kudus. Itulah yang membuatnya sungguh sebagai Anak Allah. Yesus adalah 100% manusia sekaligus 100% Allah,

Apa artinya kelahiran seorang bayi manusia? Orang mengartikan kelahiran sebagai menjadi ada dari ketiadaan. Kalau Yesus terlahir di dunia ini dari ketiadaan, maka istilah kelahiran bagi bayi Yesus tidaklah tepat karena Yesus sudah ada sebelum dilahirkan; Ia bukan menjadi ada dari ketiadaan. Oleh karena itu, lebih tepat dikatakan bahwa Yesus hanyalah bermanifestasi dalam bentuk lain. Ia yang sejak semula telah hidup sebelum dunia dijadikan, bermanifestasi dalam diri seorang Yahudi 2000 tahun yang lalu; namanya Yesus.

Lahirnya manifestasi akan diikuti berakhirnya manifestasi. Pada tahun 33 masehi, Yesus mengalami kematian. Apa artinya kematian? Orang mengartikan berakhirnya kehidupan. Apakah kehidupan Yesus sungguh-sungguh berakhir dalam kematian? Arti kematian di sini juga tidak sesuai dengan kenyataan, sebab Yesus tetap hidup setelah kematian. Lebih cocok dikatakan bahwa manifestasi Yesus berakhir dan Ia beralih kehidupan dalam bentuk yang lain.

Apa saja yang lahir, pasti mengalami kematian; apa saja yang tidak dilahirkan, tidak mengalami kematian. Yesus rupanya mengalami kedua-duanya.

Manifestasi Yesus pernah terlahir dan manifestasiNya pernah berakhir. Itulah dimensi dari ketidakkekalan. Namun pada dimensi yang paling dalam, Yesus tidak pernah lahir dan tidak pernah mati. Itulah sebabnya kita menyebutNya Kristus yang Hidup (the Living Christ). Ia hidup melampaui ruang dan waktu, dahulu dan sekarang, awal dan akhir, alpha dan omega; Ia ada di mana-mana dan tidak ada di mana-mana secara khusus; Ia adalah fondasi eksistensi anda dan melingkupi anda secara sempurna.

Kelahiran dan Kematian Ibu
Kelahiran seorang manusia membawa kegembiraan; kematian seorang manusia meninggalkan kesedihan. Demikianlah kegembiraan dan kesedihan silih berganti kalau orang terjebak pada pikiran kelahiran dan kematian.

Pada umur 16 tahun, ibu saya meninggal dunia. Pada tahun-tahun awal ditinggal ibu, saya didera oleh kesedihan. Saya meratapi diri sebagai seorang yang paling kesepian di seluruh muka bumi karena kehilangan seorang pribadi yang paling mencintai dan menyayangi.

Ketika sudah menginjak dewasa, pikiran saya mulai berubah. Orang-orang yang mengenal ibu saya mengatakan bahwa wajah saya mirip sekali dengan ibu. Orang bilang, dengan melihat wajah saya mereka melihat ibu saya. Dan saya senang mendengarkan pengakuan mereka. Saya menjadi sadar bahwa kemana saja saya pergi saya membawa ibu dalam diri saya. Ia ada dalam setiap sel dan darah saya. Dan orang lain melihatnya.

Saya bangga mempunyai seorang ibu yang baik. Ia sabar, sederhana, penuh cinta dan pengorbanan. Itu adalah darah spiritual yang ia wariskan kepada saya. Ketika saya bertindak sabar, sederhana, berani mencinta dan berkorban, ibu hidup dalam diri saya. Ibu tidak pernah mati, tetapi selalu hidup. Kemana saja saya pergi, ia selalu menyertai.

Pada tahun 1930, seorang perempuan cantik melahirkan seorang bayi yang daripadanya aku kemudian dilahirkan. Namun sesungguhnya, ibu juga tidak pernah lahir karena ia sudah ada sebelum dilahirkan. Ia sudah ada dalam diri nenek dan kakek yang juga saya kenal. Ibu mirip sekali dengan mereka dalam berbagai bentuk dan sifatnya. Ibu juga sudah ada dalam diri para leluhur mereka yang hidup sebelum dunia dijadikan. Ibu dan mereka semua tidak lahir dan tidak mati.

Belajar Menatap Awan
Mari kita belajar menatap awan. Hampir setiap pagi pada hari-hari ini, kita bisa melihat langit biru dengan awan gemawan. Kawanan-kawanan kecil awan putih bergerak lembut bersama angin dan memancarkan kilau mentari pagi. Kita senang sekali setiap pagi ditemani oleh tari-tarian awan putih di cakrawala. “Oh, betapa indah pagi ini!” Lama-kelamaan, makin banyak kawanan awan bergabung dan langit biru yang cerah berubah menjadi gelap. Kita menjadi sedih. “Oh, sahabatku, awan putihku, mengapa engkau pergi? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Hujan yang turun ke bumi membuat kita menangis. Suara tangisan kita menghentak-hentak seperti suara air hujan menjejak bumi. “Oh, di manakah engkau sahabatku, awan putihku? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Ketika hujan mencapai bumi, air mengalir bersama sungai menuju ke lautan. Pada malam yang sunyi, suara tangisan kita terdengar nyaring, menghentak-hentak seperti suara gelombang sungai memukul-mukul dinding-dinding bebatuan di tepian. “Oh, di manakah engkau sahabatku, awan putihku? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Ketika air sungai sampai di lautan, jadilah samudra raya. Kesedihan dan tangisan kita belum mereda. Namun sinar mentari menghangatkan samudra raya dan samudra raya memberikan uap air sebagai jawaban trimakasih. Uap air ini dibawa oleh angin ke atas dan jadilah awan. Setelah semalaman menangis, pagi itu kita kembali bergembira. Kita kembali melihat sahabat kita, kawanan awan putih di cakrawala.

Sebenarnya kita tidak harus menunggu sehari, setahun atau seribu tahun, untuk kembali melihat awan putih. Saat ini pula, kita bisa menatap awan. Saat langit biru menjadi gelap, dimanakah awan putih? Saat hujan turun, air sungai mengalir dan berhenti di samudra raya, dimanakah awan putih? Bukankah ia tetap ada, hanya bersembunyi di balik langit yang gelap, hujan, air sungai dan samudra raya? Jadi kapankah awan putih terlahir dan mati? Ia tidak lahir dan tidak mati. Ia hidup di balik langit gelap, hujan, air sungai dan samudra raya. Dengan menatap dalam-dalam langit yang gelap, hujan, air sungai dan samudra raya, kita melihat awan putih berarak! Ia selalu menemani kita.

Kebangkitan Yesus dan kebangkitan Kita
Kebangkitan Yesus mengingatkan kita tentang hakekat terdalam diri kita, bahwa kita tidak lahir dan tidak mati. Untuk menyentuh dimensi terdalam itu, kita hanya perlu belajar menatap fakta kehidupan itu dalam-dalam. Seperti kita menatap Yesus, ibu, awan, kita bisa menatap dalam-dalam pasangan hidup, anak-anak atau cucu, sahabat, diri kita, persoalan-persoalan kehidupan dan segala hal.

Dalam kehidupan sehari-hari, betapa mudah kita dikuasai oleh rasa takut, sedih, khawatir, kecewa dan putus asa. Itu semua terjadi karena kita terjebak pada kelahiran dan kematian. Maka latihan-latihan untuk menatap secara dalam, akan membebaskan diri kita dari ketakutan dan kesedihan.

Cara yang paling praktis untuk bangkit dari ketakutan dan kesedihan adalah dengan menatap kembali pengalaman-pengalaman manis dan bahagia. Yesus sendiri menggunakan teknik ini untuk membangkitkan para MuridNya dari deraan ketakutan dan kesedihan. Setelah bangkit, Yesus mengajak para muridNya untuk pergi ke Galilea (Mat 28:1-10). Galilea merupakan tanah penuh kenangan. Di sana tersimpan banyak kenangan manis dan kisah-kisah sukses. Menatap kembali pengalaman-pengalaman manis dan kisah sukses akan membantu menyirami benih kebahagiaan dan keabadian dalam diri anda. Dan dalam realitas yang paling dalam, anda akan melihat Kristus yang Hidup: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” (Mat 28:10)

Kenangan-kenangan manis bisa membantu, namun bukan yang paling penting. Yang paling penting adalah melihat Kristus yang Hidup, atau melihat fakta tidak lahir dan tidak mati. Dengan menatap fakta ini dalam-dalam, ketakutan dan kesedihan kita akan banyak berkurang atau hilang sama sekali dan diganti dengan kedamaian dan kegembiraan yang mendalam.*

Read More..

Read More..

By. Rm. J. Sudrijanta, SJ on April 4th, 2008

Kelahiran dan Kematian Yesus
Darimanakah Yesus datang sebelum dilahirkan dan kemana Yesus pergi setelah kematian? Marilah kita menatap dalam-dalam pertanyaan ini.

Orang bilang bahwa Yesus pergi ke surga setelah kematian; dari surga juga ia datang sebelum dilahirkan. Jadi sejak semula Yesus tetap hidup, juga setelah kematian. Ia sudah datang sebelum dilahirkan dan tidak pergi setelah kematian. Ia tidak datang dan tidak pergi; Ia tidak lahir dan tidak mati.

Pada tahun 1 masehi, Yesus dilahirkan di Bethlehem, di tanah Yudea. Ia lahir dari seorang perawan bernama Maria. Itulah yang membuatnya sungguh sebagai Anak Manusia. Ia juga lahir dari benih Roh Kudus. Itulah yang membuatnya sungguh sebagai Anak Allah. Yesus adalah 100% manusia sekaligus 100% Allah.

Apa artinya kelahiran seorang bayi manusia? Orang mengartikan kelahiran sebagai menjadi ada dari ketiadaan. Kalau Yesus terlahir di dunia ini dari ketiadaan, maka istilah kelahiran bagi bayi Yesus tidaklah tepat karena Yesus sudah ada sebelum dilahirkan; Ia bukan menjadi ada dari ketiadaan. Oleh karena itu, lebih tepat dikatakan bahwa Yesus hanyalah bermanifestasi dalam bentuk lain. Ia yang sejak semula telah hidup sebelum dunia dijadikan, bermanifestasi dalam diri seorang Yahudi 2000 tahun yang lalu; namanya Yesus.

Lahirnya manifestasi akan diikuti berakhirnya manifestasi. Pada tahun 33 masehi, Yesus mengalami kematian. Apa artinya kematian? Orang mengartikan berakhirnya kehidupan. Apakah kehidupan Yesus sungguh-sungguh berakhir dalam kematian? Arti kematian di sini juga tidak sesuai dengan kenyataan, sebab Yesus tetap hidup setelah kematian. Lebih cocok dikatakan bahwa manifestasi Yesus berakhir dan Ia beralih kehidupan dalam bentuk yang lain.

Apa saja yang lahir, pasti mengalami kematian; apa saja yang tidak dilahirkan, tidak mengalami kematian. Yesus rupanya mengalami kedua-duanya.

Manifestasi Yesus pernah terlahir dan manifestasiNya pernah berakhir. Itulah dimensi dari ketidakkekalan. Namun pada dimensi yang paling dalam, Yesus tidak pernah lahir dan tidak pernah mati. Itulah sebabnya kita menyebutNya Kristus yang Hidup (the Living Christ). Ia hidup melampaui ruang dan waktu, dahulu dan sekarang, awal dan akhir, alpha dan omega; Ia ada di mana-mana dan tidak ada di mana-mana secara khusus; Ia adalah fondasi eksistensi anda dan melingkupi anda secara sempurna.

Kelahiran dan Kematian Ibu
Kelahiran seorang manusia membawa kegembiraan; kematian seorang manusia meninggalkan kesedihan. Demikianlah kegembiraan dan kesedihan silih berganti kalau orang terjebak pada pikiran kelahiran dan kematian.

Pada umur 16 tahun, ibu saya meninggal dunia. Pada tahun-tahun awal ditinggal ibu, saya didera oleh kesedihan. Saya meratapi diri sebagai seorang yang paling kesepian di seluruh muka bumi karena kehilangan seorang pribadi yang paling mencintai dan menyayangi.

Ketika sudah menginjak dewasa, pikiran saya mulai berubah. Orang-orang yang mengenal ibu saya mengatakan bahwa wajah saya mirip sekali dengan ibu. Orang bilang, dengan melihat wajah saya mereka melihat ibu saya. Dan saya senang mendengarkan pengakuan mereka. Saya menjadi sadar bahwa kemana saja saya pergi saya membawa ibu dalam diri saya. Ia ada dalam setiap sel dan darah saya. Dan orang lain melihatnya.

Saya bangga mempunyai seorang ibu yang baik. Ia sabar, sederhana, penuh cinta dan pengorbanan. Itu adalah darah spiritual yang ia wariskan kepada saya. Ketika saya bertindak sabar, sederhana, berani mencinta dan berkorban, ibu hidup dalam diri saya. Ibu tidak pernah mati, tetapi selalu hidup. Kemana saja saya pergi, ia selalu menyertai.

Pada tahun 1930, seorang perempuan cantik melahirkan seorang bayi yang daripadanya aku kemudian dilahirkan. Namun sesungguhnya, ibu juga tidak pernah lahir karena ia sudah ada sebelum dilahirkan. Ia sudah ada dalam diri nenek dan kakek yang juga saya kenal. Ibu mirip sekali dengan mereka dalam berbagai bentuk dan sifatnya. Ibu juga sudah ada dalam diri para leluhur mereka yang hidup sebelum dunia dijadikan. Ibu dan mereka semua tidak lahir dan tidak mati.

Belajar Menatap Awan
Mari kita belajar menatap awan. Hampir setiap pagi pada hari-hari ini, kita bisa melihat langit biru dengan awan gemawan. Kawanan-kawanan kecil awan putih bergerak lembut bersama angin dan memancarkan kilau mentari pagi. Kita senang sekali setiap pagi ditemani oleh tari-tarian awan putih di cakrawala. “Oh, betapa indah pagi ini!” Lama-kelamaan, makin banyak kawanan awan bergabung dan langit biru yang cerah berubah menjadi gelap. Kita menjadi sedih. “Oh, sahabatku, awan putihku, mengapa engkau pergi? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Hujan yang turun ke bumi membuat kita menangis. Suara tangisan kita menghentak-hentak seperti suara air hujan menjejak bumi. “Oh, di manakah engkau sahabatku, awan putihku? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Ketika hujan mencapai bumi, air mengalir bersama sungai menuju ke lautan. Pada malam yang sunyi, suara tangisan kita terdengar nyaring, menghentak-hentak seperti suara gelombang sungai memukul-mukul dinding-dinding bebatuan di tepian. “Oh, di manakah engkau sahabatku, awan putihku? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Ketika air sungai sampai di lautan, jadilah samudra raya. Kesedihan dan tangisan kita belum mereda. Namun sinar mentari menghangatkan samudra raya dan samudra raya memberikan uap air sebagai jawaban trimakasih. Uap air ini dibawa oleh angin ke atas dan jadilah awan. Setelah semalaman menangis, pagi itu kita kembali bergembira. Kita kembali melihat sahabat kita, kawanan awan putih di cakrawala.

Sebenarnya kita tidak harus menunggu sehari, setahun atau seribu tahun, untuk kembali melihat awan putih. Saat ini pula, kita bisa menatap awan. Saat langit biru menjadi gelap, dimanakah awan putih? Saat hujan turun, air sungai mengalir dan berhenti di samudra raya, dimanakah awan putih? Bukankah ia tetap ada, hanya bersembunyi di balik langit yang gelap, hujan, air sungai dan samudra raya? Jadi kapankah awan putih terlahir dan mati? Ia tidak lahir dan tidak mati. Ia hidup di balik langit gelap, hujan, air sungai dan samudra raya. Dengan menatap dalam-dalam langit yang gelap, hujan, air sungai dan samudra raya, kita melihat awan putih berarak! Ia selalu menemani kita.

Kebangkitan Yesus dan kebangkitan Kita
Kebangkitan Yesus mengingatkan kita tentang hakekat terdalam diri kita, bahwa kita tidak lahir dan tidak mati. Untuk menyentuh dimensi terdalam itu, kita hanya perlu belajar menatap fakta kehidupan itu dalam-dalam. Seperti kita menatap Yesus, ibu, awan, kita bisa menatap dalam-dalam pasangan hidup, anak-anak atau cucu, sahabat, diri kita, persoalan-persoalan kehidupan dan segala hal.

Dalam kehidupan sehari-hari, betapa mudah kita dikuasai oleh rasa takut, sedih, khawatir, kecewa dan putus asa. Itu semua terjadi karena kita terjebak pada kelahiran dan kematian. Maka latihan-latihan untuk menatap secara dalam, akan membebaskan diri kita dari ketakutan dan kesedihan.

Cara yang paling praktis untuk bangkit dari ketakutan dan kesedihan adalah dengan menatap kembali pengalaman-pengalaman manis dan bahagia. Yesus sendiri menggunakan teknik ini untuk membangkitkan para MuridNya dari deraan ketakutan dan kesedihan. Setelah bangkit, Yesus mengajak para muridNya untuk pergi ke Galilea (Mat 28:1-10). Galilea merupakan tanah penuh kenangan. Di sana tersimpan banyak kenangan manis dan kisah-kisah sukses. Menatap kembali pengalaman-pengalaman manis dan kisah sukses akan membantu menyirami benih kebahagiaan dan keabadian dalam diri anda. Dan dalam realitas yang paling dalam, anda akan melihat Kristus yang Hidup: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” (Mat 28:10)

Kenangan-kenangan manis bisa membantu, namun bukan yang paling penting. Yang paling penting adalah melihat Kristus yang Hidup, atau melihat fakta tidak lahir dan tidak mati. Dengan menatap fakta ini dalam-dalam, ketakutan dan kesedihan kita akan banyak berkurang atau hilang sama sekali dan diganti dengan kedamaian dan kegembiraan yang mendalam.*

Read More..

Saturday, June 14, 2008

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on February 19th, 2008

Keheningan sebagai Doa
Supaya bisa berdoa, orang biasanya mencoba untuk menenangkan pikiran lebih dahulu. Kalau pikiran tenang, apalagi didukung oleh lingkungan yang tenang, orang merasa lebih mudah untuk berdoa.

Namun doa hening atau doa keheningan bukan doa di lingkungan yang hening atau doa dengan pikiran yang tenang. Doa yang hening atau doa yang tidak gaduh adalah seperti perumpamaan doa seorang pemungut cukai dan bukan doa orang farisi (Lukas 18:9-14). Namun doa hening bukan seperti keduanya.

Orang berpikir bahwa doa hening adalah seperti duduk diam di hadapan tabernakel atau salib Yesus. Lalu orang mencoba berimaginasi bahwa Tuhan hadir di hadapannya. Orang juga berpikir bahwa doa hening adalah seperti doa Yesus, yaitu mengulang-ulang kata Yesus sesuai dengan irama nafas. Doa hening juga bukan seperti itu.

Yang dimaksudkan dengan doa hening adalah bahwa keheningan itu sendiri merupakan doa. Dalam doa hening, kata dan pikiran tidak punya arti. Visualisasi atau imaginasi tidak berguna. Pendoa hanya diam dengan batin yang betul-betul bebas dari pikiran. Itulah doa hening.

Mengapa keheningan disebut doa? Doa pertama-tama adalah komunikasi yang intim antara pendoa dengan yang Absolut. Pusat dari komunikasi yang intim itu bukan diri pendoa tetapi yang Absolut. Serupa dengan keheningan. Dalam keheningan, orang tidak lagi berpusat pada dirinya dan orang menyentuh Yang Lain, Titik Keheningan atau Yang Absolut. Dalam artian itulah, keheningan menjadi doa.

Yesus sendiri tidak pernah secara eksplisit mengajarkan doa hening kepada para muridNya. Namun Ia sendiri rupayanya sudah mempraktekkan doa hening. Apa yang dilakukan Yesus ketika Ia berdoa semalam-malaman di bukit (Lukas 6:12)? Atau ketika berada di padang gurun (Lukas 4:1)? Barangkali bukan hanya melakukan doa yang hening atau berdoa di tengah keheningan, tetapi doa keheningan itu sendiri. Lebih jauh, kalau melihat hakekat dari doa hening itu, kita akan bisa melihat bahwa seluruh hidup Yesus dipenuhi oleh keheningan. Dalam keheningan itu Ia berelasi intim dengan BapaNya. Dengan cara itu, Ia hidup, bergerak dan ada.

Apa itu keheningan?
Banyak orang beranggapan bahwa keheningan adalah sebuah fenomena lahir yang bisa dialami di lingkungan yang tidak gaduh di luar. Orang berpikir akan mendapatkan keheningan di tempat yang sepi seperti di tengah hutan atau di puncak gunung. Orang berpikir tidak bisa mengalami keheningan di tengah hiruk pikuk pasar atau kesibukan harian. Kenyataannya, orang bisa tidak hening di tengah hutan atau bisa saja mengalami keheningan di tengah hiruk pikuk pasar. Jadi, keheningan tidak datang dari lingkungan di luar, melainkan bersumber dari dalam batin. Lingkungan yang tidak gaduh di luar bisa membantu keheningan batin, namun keheningan sama sekali tidak ditentukan dari luar batin.

Andaikan terjadi suatu ledakan dahsyat, anda tiba-tiba terdiam. Seluruh perhatian anda terserap pada bunyi ledakan tersebut. Baru setelah beberapa detik, anda mulai berpikir. anda mungkin berpikir suara itu adalah ledakan bom karena anda merasa bisa mengenali perbedaan suara bom dari suara lain. Kemudian anda mungkin berpikir bahwa teroris sedang beraksi. Jantung anda lalu berdetak lebih kencang karena rasa takut dan cemas mulai menggayut. Atas dasar pikiran dan perasaan tersebut, lalu serangkaian tindakan anda ambil.

Orang lain yang mendengar ledakan dahsyat yang sama juga tiba-tiba terhenyak terdiam. Baru kemudian ia berpikir. Barangkali ia berpikir bahwa ledakan itu adalah bunyi tabung gas; ia merasa mengenali ciri-ciri ledakan tabung gas. Lalu ia berpikir di mana kira-kira lokasi ledakan terjadi. Dengan volume suara yang dahsyat tersebut, ia mungkin berpikir bahwa kerusakan yang ditimbulkan amat parah. Mungkin ada orang di sekitarnya yang menjadi korban. Bisa jadi ia membayangkan ada korban yang berdarah-darah dan ia menjadi ngeri.

Dari kasus ledakan itu menjadi jelas bahwa orang mengalami keheningan dalam beberapa detik setelah ledakan terjadi. Keheningan mulai ketika pikiran yang lama berhenti. Keheningan tersebut kemudian berhenti ketika pikiran yang lain masuk. Jadi, keheningan pertama-tama adalah berhentinya pikiran atau jeda antara berhentinya pikiran yang satu dan munculnya pikiran yang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat bahwa pikiran kita terus bergerak tiada henti. Namun kalau kita perhatikan lebih dalam, seringkali jeda-antara pikiran yang satu dengan yang lain itu muncul. Artinya, keheningan itu seringkali muncul entah sekian menit, sekian detik atau nol koma sekian detik setiap saat. Keheningan itu bisa diperpanjang dengan memperpanjang jeda-antara pikiran.

Dalam titik keheningan itu kita mengalami seperti ada ruang yang luas sekali. Di sana kita mengalami kebebasan yang mendalam, kejernihan pemahaman, pemurnian-pemurnian atas segala ketidaktahuan kita, dan kedamaian yang tak berujung. Segala pengetahuan yang kita kumpulkan bertahuan-tahun di otak kita terasa tidak punya arti apa-apa. Itulah yang kita namakan kecerdasan di luar jangkauan pikiran. Di sana kita memandang yang Absolut atau yang Tak-Diketahui atau yang Tak-Terbatas atau orang menyebutnya sebagai Tuhan.

Keheningan adalah bahasa Tuhan untuk mengkomunikasikan diriNya
Bagi seorang penganut adanya Tuhan, dalam keheningan bebas-pikiran itu muncullah Titik Keheningan, yang Absolut, yang Tak-diketahui atau Tuhan itu sendiri. Orang yang mampu memandang Titik Keheningan, ia bisa merasa disentuh oleh Tuhan sendiri. Maka orang ini mengalami bahwa keheningan merupakan bahasa yang dipakai Tuhan untuk mengkomunikasikan diriNya.

Kalau Tuhan mengkomunikasikan diriNya kepada pendoa, maka pendoa bisa mengalami penyembuhan-penyembuhan. Penyembuhan-penyembuhan ini bisa spiritual, psikologis, dan fisik. Penyembuhan spiritual artinya, pendoa dibebaskan dari belenggu kedosaan masa lampau. Penyembuhan psikologis artinya, pendoa mengalami pembebasan dari semua beban emosi seperti rasa takut, gelisah, cemas dst. Penyembuhan fisik artinya, pendoa mengalami penyembuhan yang menyangkut tubuhnya seperti misalnya kesembuhan dari sakit di kaki atau dari sakit kanker.

Pengalaman lain adalah pendoa mengalami suatu kecerdasan yang bebas-pikiran. Ia dibuat mampu memahami yang Absolut apa adanya. Dari sana lalu berkembang lebih jauh. Dalam segala ia melihat apa adanya, mendengar apa adanya, merasakan apa adanya, bertindak apa adanya. Apa adanya ini kudus adanya karena menjadi manifestasi dari yang Absolut.

Jalan menuju keheningan melalui keheningan
Keheningan merupakan tujuan sekaligus sarananya. Tidak ada jalan lain menuju keheningan kecuali lewat keheningan itu sendiri. Kalau anda berpikir tentang keheningan, itu bukan keheningan. Kalau anda duduk berjam-jam dan berupaya keras supaya dapat mencapai keheningan, anda tidak akan mendapatkannya.

Tanpa usaha, orang tidak berbuat apa-apa. Dengan berusaha, orang juga tidak akan mendapat apa-apa. Semakin dikejar, keheningan akan semakin menjauh. Semakin diri melepas masa lampau dan masa depan, keheningan semakin mendekat. Pencarian dan pencari keduanya musti ditanggalkan. Itulah paradoks keheningan.
Ketika anda mendengar, anda mendengar apa adanya tanpa gangguan pikiran masa lampau atau masa depan.


Ketika anda melihat, anda melihat apa adanya tanpa gangguan pikiran masa lampau atau masa depan. Ketika anda merasa, anda merasa tanpa pikiran masa lampau atau masa depan. Kalau anda bisa melakukan itu, anda mengalami keheningan.

Tidak ada buku atau guru yang bisa menghantar anda mengalami keheningan. Anda sendirilah guru untuk keheningan. Anda barangkali menemukan sesuatu yang bernilai dengan membaca tulisan ini. Namun anda perlu melepaskan pengetahuan yang anda timba dari bacaan ini kalau anda ingin masuk pada keheningan. Anda barangkali belajar berbagai teknik dan metode. Namun kalau anda terkungkung oleh teknik dan metode, anda tidak mengalami keheningan. Lupakan pikiran anda. Kalau tidak, anda hanya akan mampu berpikir tentang keheningan tetapi tidak mengalami keheningan.

Bayangkan bahwa anda berdiri di pinggir sungai. Anda lihat sungai mengalir tiada putus. Di sana anda juga melihat begitu banyak barang yang terhanyut: sampah plastic, sampah organic, bungkusan, botol, kayu, rongsokan barang, bangkai binatang, dst. Pikiran anda adalah seperti sampah dan barang-barang yang terus mengalir. Keheningan anda terletak pada saat sekarang di depan mata anda. Apa yang berada di sebelah kiri jangkauan pandangan mata anda adalah pikiran masa lampau. Saat pikiran masa lampau datang, sadarilah itu telah lewat dan kembalilah ke saat sekarang. Apa yang berada di sebelah kanan anda adalah pikiran masa depan. Itu belum menjadi kenyataan sekarang. Maka saat pikiran masa depan datang, sadarilah itu belum menjadi kenyataan sekarang. Kembalilah ke saat sekarang dan sadarilah bahwa di sanalah keheningan itu berada yaitu saat bebasnya sekarang dari masa lampau dan masa depan. Hiduplah dengan kesadaran di sini dan sekarang, dari saat ke saat.*
-o0o-

Read More..

Friday, June 13, 2008

Read More..

Sekiranya pun tiada lagi rasa cinta itu kini dalam hatimu
aku berharap
setidaknya kau masih bisa memandangku
sebagai seorang sahabat

yang bahunya selalu kausandari
saat kau tuturkan kisah-kisah jinggamu,
yang lengannya kerap memelukmu erat
tatkala merekatkan kembali duniamu berkeping-keping,
yang telinganya senantiasa bersabar
menyimak nada sendumu tentang hari berhujan,
yang hatinya menjadi cawan
menyimpan tetes demi tetes airmatamu,
dan yang mulutnya tidak henti mengaku
betapa akan berbedanya dia tanpamu.


Dulu pernah kaubertanya:
"Bagaimana kauputuskan aku sebagai kekasih,
yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu,
sedangkan kau belum lagi mengenalku?"

Aku tidak bisa merekayasa jawaban
yang dapat membuat hatimu menggelepar,
sehingga aku hanya bisa berkata lirih:

"Telah kuputuskan
akan kugunakan setiap saat dalam sisa hidupku
untuk mengenalmu".

Dan saat itu engkau terkesima.


Mestinya aku punya lebih dari satu alasan
untuk berhenti mempertimbangkanmu
sebagai belahan jiwa,
pasangan berbagi cerita,

karena telah sedemikian dalam jurang yang kaugali
antara bahasaku dan bahasamu
yang mustahil kuseberangi
dengan sayap yang terkoyak,

karena telah sedemikian tinggi bukit yang kautimbun,
lara di atas luka,
yang tak mungkin kudaki
tanpa uluran jemari belaskasihmu,

karena telah sedemikian jauh jalan yang kautempuh
yang membuatku tak lagi bisa jernih membedakan
antara khilaf dan pengkhianatan.

Walau kesesakan kerap berkelebat
bahwa aku telah gagal mengenalmu,
aku tidak mungkin berbalik.

Walau demikian letih kuseret langkahku
beringsut menggapai bayang-bayangmu yang kian samar,
aku tidak mungkin berhenti.

Karena telah lama kutanggalkan semua mimpi dan kecewa
sejak kusampaikan ikrar di altar
dalam sakramen sekali untuk selamanya.


Mungkin tak seharusnya aku bertanya lagi
tentang cincin yang kusam dan retak,
karena telah kupahami kini
bahwa cinta tak pernah gagal
... untuk memberi.
Sampai maut memisahkan kita.

— Beth, 3 Oktober 2005 04:50
© alof

* diilhami kisah "Love Is A Many-Splendored Thing" karya Han Suyin alias
Elisabeth Comber (nama gadis: Elizabeth Kuanghu Chow/Zhou Guanghu).


** Love Is A Many-Splendored Thing **
(Music: Sammy Fain, Lyrics: Paul F. Webster, 1955)


I walked along the streets of Hong Kong town,
up and down, up and down.
I met a little girl in Hong Kong town
And I said can you tell me please,
Where's that love I've never found.


Unravel me this riddle.
What is love, what can it be.
And in her eyes were butterflies
As she replied to me,

Love is a many-splendored thing.
It's the April rose that only grows
In the early spring.
Love is nature's way of giving
A reason to be living—
The golden crown that makes a man a king.

Once on a high and windy hill
In the morning mist two lovers kissed
And the world stood still.
Then your fingers touched my silent heart
And taught it how to sing!
Yes, true love's, a many-splendored thing.

--repeat from "Love is a many-splendored

Read More..

Read More..

Sharing ini saya buat pada bulan Desember 2002 kepada teman2ku dan kejadiannya Desember 1991.

Pernah ada salah satu teman yang bilang bahwa daripada pusing dan tidak bisa menerima "kenyataan", lebih baik kita belajar untuk bersyukur dengan keadaan kita, apapun buruknya itu..... lebih baik kita memberikan berkat untuk orang lain dengan talenta yg kita punya, daripada diam merenungi "nasib".... Yah ... saya setuju sekali dgn kata2 itu .... Hanya kata "nasib" saya revisi sedikit menjadi "hidup ini", karena buat saya tdk ada kata nasib atau takdir.... . Jadi Jangan lari dari kenyataan hidup ini .... Kita harus jalani hidup ini apa adanya .... ada beberapa e-mail yg pernah saya terima yg menyatakan bahwa "hidup itu indah" hihihi ... bener gak??? Tergantung yang menjalaninya.

Sharing :
Saya sudah menikah selama 13 tahun dan sampai saat ini saya belum dikaruniai anak. Dulu pernah setelah menikah 1,5 tahun saya berobat dan dinyatakan hamil, tapi karena obat yg saya minum dari dokter mungkin agak keras, akhirnya saya kena “kista” dan kistanya dibuang dgn jalan operasi sekalian ovarium saya disebelah kiri juga diambil karena kistanya sudah pecah dan menempel di ovarium. Lha, mengenai kehamilan saya ..... wah .... Cerita mulanya begini : saya sudah salah jalan, karena waktu kena kista, perut saya kembung selama 10 hari , saya lari ke dokter internis, sedangkan saya tidak terpikir kalau saat ini khan saya sedang ditangani oleh “dokter kandungan” dan malah dari dr internis saya disuruh CT scan ..... Hasil dari CT scan saya dinyatakan kanker rahim ganas dan dlm waktu 6 bulan saya “meninggal” (yg tahu hanya suamiku, krn baca hasil lab yang dikasih oleh dokter). Karena urusan rahim, maka suami cari dokter kandungan lain lagi, ternyata setelah di USG hasilnya saya hanya kena “kista”, tapi sudah pecah dan harus cepet2 dioperasi.

Sebenarnya saya sewaktu habis dioperasi kista (masih di RS), saya mual2 dan nggak suka makan, tapi dokter kandungan mengatakan dgn nada agak marah bahwa "Ibu dalam keadaan sakit tidak mungkin hamil" terus saya malah diberi obat sakit maag “milanta” juga nggak saya minum karena baunya manaaa tahaaannn. Setelah plg dari RS saya iseng2 ke lab periksa urin utk kehamilan … eee ternyata saya dinyatakan “positif”….. saking senengnya kami teringat kepada dokter kandungan yg pertama (yg sdg tangani saya)…. Kami cerita apa yg baru terjadi …. dokternya kaget …. Ya sudah saya akan tolong bayinya, tapi kalau ct-scannya diatas 10 mikron saya angkat tangan kata dokter tsb. Setelah dokter tanya di RS dimana saya dict-scan kata dokter tsb saya dictscan diatas 10 mikron….. akhirnya saya dikuret, karena kalo tdk anaknya bisa cacat. Oya kami sdh punya nama utk anak kami tsb, namanya Kevin…. Kami berdua sudah minta maaf dan sudah mendoakan anak kami almarhum pada perjamuan misa kudus.

Wah dasar saya “Oon” sudah salah jalan ke dokter internis … saya dibilang mau mati …. eee dibilang gak hamil …. Berapa kali salah tuh….atau memang Tuhan belum menghendaki saya punya anak kali yaaaa…..:p

Jadi kesimpulannya : apa yang dikatakan seorang dokter belum tentu benar 100%, maaf saya bukan menghakimi tapi hanya mengingatkan, karena dokter juga seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Saya sudah memaafkan. Nah, dgn kejadian tsb. akhirnya saya menjadi trauma nggak mau pergi ke dokter kandungan lagi selama 6 tahun....

Mungkin dari teman2 ada yg bertanya koq nggak coba dgn pengobatan alternatif..... sudah banyak yg saya coba dan hasilnya bahkan “sangat mengecewakan” sekali .... ceeediihhh sekali…. Tidak utk diceritakan …. biar utk kami berdua aja….. hehehe….

Yah kami berdua sudah ada umur, sekarang kami sudah pasrah total kepada Tuhan saja ... terserah apa yang Tuhan mau berikan pada kami..... meskipun mungkin dalam bentuk lain, bukan anak.

Oya, sekali lagi thanks to God juga, karena Tuhan telah mempersiapkan kami bahwa orang tua dari suami tidak pernah menanyakan soal anak pada kami, juga sebaliknya orang tua saya sendiri tidak pernah menanyakan soal anak kepada kami berdua. Yah Tuhan telah mengatur semuanya.

Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada milis lain yg saya ikuti, yang mana Tuhan punya rencana dan kehendakNya melalui caranya sendiri melalui teman2 di milist tsb.... Thanks to God. Terus terang saya sungguh merasa terharu tiba2 didalam saling bincang2 di milist tsb. ada salah satu anak yang menyebut saya dgn panggilan “mama”... "siapa sangka kalau hal itu bisa terjadi" .... bahkan seperti sebagai provokatornya yg akhirnya diikuti oleh teman2 yang lain dengan sebutan “Mams alias Mama suyin” hehehe….. oyah… suamiku juga dipanggil “Paps alias Papa Suyin” …..Semua adalah karena kasihNya. Thanks to God.

Maaf kalo sharingnya agak panjang yaa... Itu saja yang ingin saya sharingkan kepada teman2 semua .... Maafkan saya apabila ada perkataan yang kurang berkenan di hati dan salah ucap atau ketik.
Semoga Tuhan senantiasa memberkati teman2 semua.

Salam dalam Kasih Tuhan,
Suyin
Jakarta, 17 Desember 2002

Read More..

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on February 19th, 2008

Mengapa orang berdoa?
Dalam semua tradisi agama, orang melakukan praktek doa. Dalam kondisi apapun orang berdoa: sehat atau sakit, gagal atau sukses, pribadi atau bersama, di dalam rumah atau di luar rumah, dst.

Doa itu bagaikan darah yang menghidupi seluruh tubuh. Doa tidak bisa dipisahkan dari gerak kehidupan umat manusia.

Sadar atau tidak, manusia punya hasrat untuk menyentuh realitas Absolut. Dari sanalah ia berasal; di sanalah akar dan pusat hidupnya; ke sana juga ia akan kembali. Itulah mengapa manusia berdoa.

Apa tujuan orang berdoa?

Orang punya berbagai kebutuhan untuk melangsungkan kehidupannya. Ia membutuhkan kesehatan, keberhasilan, relasi yang baik, dst. Melalui doa, orang berharap mendapatkan apa yang dibutuhkan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Kadang orang berdoa untuk memohon sesuatu dan permohonannya dikabulkan dengan segera. Ada yang harus menunggu lama baru dikabulkan. Ada juga yang tidak dikabulkan meskipun orang sudah berdoa tak kunjung putus.

Doa bukan hanya ditujukan supaya orang mendapatkan sesuatu yang particular untuk survival hidup. Lebih jauh lagi, doa ditujukan supaya orang mengalami realitas Absolut. Realitas Absolut ini dalam tradisi Teisme disebut dengan Allah.


Apa itu doa?
Doa tidak lain adalah sebuah komunikasi antara pendoa dengan yang Absolut. Tidak ada yang bisa memberi jaminan bahwa apa yang didoakan pasti terkabul. Namun demikian ada beberapa factor yang membuat doa itu efektif.

Pertama, doa sangat ditentukan pada tingkat kedalamannya. Orang berdoa itu seperti orang berkomunikasi melalui telepon. Saat orang ingin berkontak langsung dengan orang lain dari jarak tertentu melalui telepon, saat itu pula kontak itu terjadi. Kontak dalam doa tidak membutuhkan satelit, rentang waktu dan ruang. Maka menempatkan Tuhan jauh di luar diri pendoa menjadikan doa kurang efektif. Kenyataannya, Tuhan begitu dekat dengan diri pendoa bahkan tak terpisahkan darinya. Tuhan dan pendoa tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Maka berdoa kepada Tuhan yang begitu dekat ini akan membuat doa menjadi lebih dalam.

Kedua, seperti halnya telepon membutuhkan energi listrik atau baterai supaya mesin telepon bisa dipakai, doa juga membutuhkan energi. Kekuatan energi doa tidak lain adalah iman, harapan dan kasih.

Pusat dari iman, harapan dan kasih adalah Tuhan sendiri. Berdoa dengan iman berarti berdoa dengan berpusat bukan pada diri sendiri tapi pada Tuhan. Kalau orang bisa menyadari kapan cinta diri, kehendak diri, kepentingan diri berhenti dan kapan cinta Allah, kehendak Allah, kepentingan Allah mulai menguasai dirinya, orang tahu secara actual apa artinya berdoa dengan iman.

Seorang ibu bercerita bahwa ia sudah lama menderita kanker payudara stadium empat. Berbagai cara penyembuhan sudah dicoba dan sudah banyak biaya sudah dikeluarkan. Doa juga tidak kurang dilakukan. Namun penyembuhan itu tak kunjung datang.


Suatu saat ia sampai pada suatu titik dimana rasa depresinya telah lewat. Dalam doa-doanya, ia lebih banyak diam dan berserah. Ia mengalami bahwa kesehatan tidak lebih bernilai daripada sakit. Tanpa tahu darimana datangnya, ia suatu saat merasakan dorongan batin untuk berdoa: “Tuhan Yesus Kristus, trimakasih Engkau telah menyembuhkan aku. Trimakasih.” Doa itu terus didaraskan berulang-ulang. Setelah sadar, rasa sakitnya tidak muncul lagi. Beberapa hari kemudian ia datang kepada dokter pribadinya dan dokter pribadinya heran bagaimana bisa kanker ibu ini bisa hilang 100%.

Ibu itu berdoa dengan penuh iman. Pada awalnya ia berdoa berpusat pada dirinya. Kemudian doanya maju lebih matang dengan berpusat pada Tuhan. Ia memahami kebenaran iman: “Siapa mencari dirinya, akan merusak dirinya. Barangsiapa meniadakan dirinya, akan menemukan dirinya.” (Bdk Mat 10:39)


Doa tak kunjung putus
Yesus menasehati para muridNya untuk berdoa tak jemu-jemu atau berdoa tak kunjung putus (Lukas 18:1). Doa atau komunikasi dengan yang Absolut tidak hanya bisa dilakukan beberapa menit atau jam tetapi terus-menerus tanpa henti.

Dalam tradisi Katolik, ada begitu banyak rumus doa. Misalnya “Bapa Kami”, “Salam Maria”, dst. Orang bisa mendoakan atau mendaraskan doa-doa ini terus menerus di tengah kesibukan harian.

Ada juga banyak doa pendarasan yang diambil dari teks Kitab Suci. Misalnya, “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup, kasihanilah kami yang berdosa ini.” Rumusan ini bisa disingkat dengan “Yesus” sehingga disebut “doa Yesus”. Setiap kali kita bernafas, kita bisa mendoakan doa Yesus ini. Kalau sehari kita bernapas ribuan kali, maka doa Yesus bisa kita doakan ribuan kali. Doa ini begitu sederhana, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Orang yang sudah lebih maju dalam doa, bisa merasa terganggu dengan kata sehingga ia lebih merasa cocok untuk berdoa dalam keheningan. Itulah yang disebut doa hening. Doa hening adalah doa yang diam dengan batin yang sungguh-sungguh hening. Semua aktivitas pikiran tidak terpakai. Dalam keheningan itu, orang menyadari dan merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya dan segala sesuatu. Doa hening juga bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Kesatuan Diri Pendoa dengan Tuhan

Doa yang mendalam dan tak kunjung putus membawa pendoa semakin bersatu dengan Tuhan. Kesatuan dengan Tuhan inilah tujuan dari perjalanan hidup kita.

Pengalaman kesatuan diri dengan Tuhan itu bisa dicapai saat ini juga. Orang tidak perlu menunggu nanti kalau sudah meninggal. Bukan hanya kisah santo-santa membuktikan kebenaran ini tetapi juga banyak pendoa di antara orang-orang biasa di tengah kita yang masih hidup.

Bagi para pendoa seperti itu, doa bukan hanya tindakan berkomunikasi dengan Tuhan pada ruang dan waktu tertentu, tetapi seluruh hidupnya menjadi doa itu sendiri. Mereka mengalami secara actual bahwa segala sesuatu ada dalam Tuhan dan Tuhan ada dalam segala sesuatu.*

-o0o-

Read More..

Wednesday, June 11, 2008

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on February 11th, 2008

Tuhan Tidak Kurang sebagai Seorang Pribadi sekaligus Melebihi Seorang Pribadi
Bagi orang Kristiani, Tuhan sering digambarkan sebagai seorang pribadi. Memang Dia tidak kurang sebagai seorang pribadi. Karenanya, orang bisa berkomunikasi dengan Tuhan layaknya sebagai sahabat, bapa, ibu, laki-laki, perempuan, dst.

Namun kalau masuk dalam relasi dengan Tuhan secara lebih dalam, Tuhan tidak cukup digambarkan sebagai seorang pribadi. Ia melebihi gambaran seorang pribadi.

Lihatlah hubungan yang begitu dekat antara ikan dengan air. Ikan itu dilingkupi oleh air. Bahkan dalam diri ikan, terdapat unsur-unsur air. Tanpa air, ikan tak mungkin bisa hidup, bergerak dan ada.

Manusia adalah seperti ikan dan Tuhan adalah seperti lautan air. Tuhan melingkupi manusia secara menyeluruh dan mendalam. Ia ada di dalam sekaligus di luar diri manusia. Ia ada di mana-mana secara umum dan tidak ada di mana-mana secara khusus. Tanpa Tuhan, manusia tak mungkin bisa hidup, bergerak dan ada.

Masalahnya, mengapa banyak orang mengalami kesulitan untuk bertemu Tuhannya? Kuncinya ada pada kesadaran. Kalau orang tidak sadar bahwa Tuhan adalah fondasi hidupnya, bagaimana ia bisa mengalami Tuhan secara mendalam dalam dirinya?

Dimanakah Tuhan?
Anda sering bertanya: ketika aku sedih, dimanakah Tuhan? Ketika aku gembira, dimanakah Tuhan? Ketika aku didera luka dan derita, dimanakah Tuhan? Ketika aku mengalami damai dan pembebasan, dimanakah Tuhan?

Orang sering mencari Tuhan di luar dirinya. Padahal Tuhan sudah ada di dalam dirinya dan melingkupi dirinya. Dialah yang memungkinkan manusia hidup, bergerak dan ada.
Segala sesuatu yang kita butuhkan untuk tetap hidup sudah tersedia di hadapan kita duapuluh empat jam setiap hari. Ia bisa bernama udara, air, api, bumi, sinar matahari, nafas, dst. Apakah kita bisa menikmati bersihnya udara, segarnya air, hangatnya sinar matahari, indahnya nafas dan seterusnya? Semuanya bergantung pada kesadaran. Kalau tak pernah tersadar, maka kita tidak tahu bagaimana menikmati realitas kosmis itu. Kita belum sungguh-sungguh menikmati kehidupan dan apa yang membuat kita tetap hidup.

Tuhan juga tersedia bagi kita duapuluh empat jam setiap hari. Kemampuan kita untuk menjamahNya bergantung pada kesadaran kita.

Energi Tuhan
Dalam tradisi Kekristenan, Roh Kudus adalah Energi Tuhan sendiri yang dicurahkan dalam diri setiap orang. Roh Kudus itulah yang membimbing orang pada kebenaran dan mengantar orang mengalami kepenuhan kebenaran. (Yoh 16:13)

Dalam tradisi timur, Kesadaran Murni dipandang setara dengan Roh Kudus. Hidup dalam Kesadaran berarti peduli dan menikmati gerak kehidupan setiap hari apa adanya; peduli dan menikmati setiap gerak pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan apa adanya.

Kesadaran Kristiani adalah hidup peduli dan menikmati setiap moment kehidupan bahwa Tuhan selalu terlibat dalam hidup kita duapuluh empat jam setiap hari. Untuk dapat menjamah Tuhan dalam setiap moment kehidupan harian, hanya dibutuhkan Energi Kesadaran sebagai Energi Tuhan sendiri.

Dua Dimensi, Satu Realitas
Lihatlah ombak di pantai. Anda lihat ada ombak putih atau ombak berwarna, besar atau kecil, tinggi atau pendek, kuat atau lemah. Semua ombak akhirnya akan jatuh ke permukaan air. Tidak peduli ia besar atau kecil, tinggi atau pendek, kuat atau lemah. Semua kembali ke air di bawah.

Apa fondasi dari ombak? Air adalah fondasi ombak. Tanpa air tidak ada ombak yang demikian; tanpa ombak juga tidak ada air yang demikian.

Kesatuan antara manusia dan Tuhan begitu erat seperti kesatuan antara ombak dan air. Anda adalah seperti ombak dan Tuhan anda adalah seperti air. Seperti halnya ombak tak bisa dipisahkan dari air, begitu pula anda tak bisa dipisahkan dari Tuhan. Seperti ombak, anda sering gelisah, iri, bingung, tegang ketika anda membandingkan diri ombak anda dengan ombak yang lain. Ombak yang lain tidak bisa menjadi fondasi yang kuat bagi hidup anda. Seperti air bagi ombak, Tuhan adalah fondasi yang kuat. Di sanalah anda menemukan ketenangan, kedamaian, kebebasan dan kekuatan.

Ombak bagi air adalah dunia fenomena. Kita bisa menangkap dengan panca indra semua makhluk di dunia fenomena. Ia bisa bernama udara, orang, sahabat, keluarga, kursi, rumah, pohon, gunung, hewan, iklan, pakaian, TV, komputer, dst. Dengan konsep-konsep, orang bisa mendeskripsikan dunia fenomena secara tepat. Misalnya, tentang fenomena udara. Dengan mengukur tingkat polusi, kita bisa menyimpulkan bahwa udara yang kita hirup di kota Jakarta lebih kotor sedang udara di kawasan Puncak lebih bersih.

Air bagi ombak adalah dunia neumena. Dunia neumena berada pada “struktur-dalam” dunia fenomena. Ia adalah fondasi, substansi atau jantung hati dari dunia fenomena. Pengalaman akan dunia neumena tidak bisa dijelaskan sepenuhnya dengan konsep dan kategori. Namun bisa digambarkan melalui symbol-simbol. Misalnya, orang bisa mengalami kelegaan dan penyembuhan ketika menghirup udara dan menjamah fondasi udara (the ground of the air) dengan nafas yang dalam, entah udara Jakarta atau Kawasan Puncak. Kelegaan dan penyembuhan itu bisa dialami saat itu juga sebagai pengalaman akan Roh Kudus atau pengalaman Energi Kesadaran Murni.

Contoh lain adalah nafas. Dalam dunia fenomena, orang bisa membuat pembedaan-pembedaan: nafas perut atau dada, nafas pendek atau panjang, tarikan nafas atau keluaran nafas, nafas bau atau nafas harum. Dalam dunia neumena, orang hanya bernafas dengan penuh kesadaran. Tidak peduli orang bernafas di pinggir jalan yang penuh polusi atau di ruangan ber-AC. Di sana orang bisa bersatu dengan nafasnya secara penuh sampai nafasnya menghilang dengan sendirinya. Kemudian orang mengalami kebebasan, kedamaian dan keindahan. Di sanalah ia menjamah fondasi nafasnya (the ground of breathing): Spiritualitas Timur menyebutnya Energi Kesadaran Murni dan Spiritualitas Kristiani menyebutnya Energi Tuhan atau Roh Kudus. Tuhan Allah menghembuskan Nafas hidup sehingga manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej 2: 7). Orang bisa menyadari bahwa Tuhanlah yang bernafas dalam dirinya, setiap saat, setiap moment.

Roh Kudus atau Energi Kesadaran Murni bisa dijamah ketika orang peduli dan memberi perhatian yang mendalam pada dunia fenomena. Dengan perhatian yang mendalam, dunia neumena akan terkuak dan pengalaman kesatuan dengan Roh Kudus atau Energi Kesadaran Murni dalam kehidupan sehari-hari menjadi mungkin.

Kita menjamah dunia neumena dengan menjamah dunia fenomena secara mendalam. Tidak ada jalan untuk menjamah Tuhan dengan menolak segala sesuatu di dalam dan di luar diri kita: dunia fisik, pikiran, perasaan, formasi mental, kesadaran. Kalau ombak dibuang, air tidak bisa kita jamah. Kalau segala sesuatu di dalam dan di luar diri kita dibuang, Tuhan tidak bisa kita jamah.

Fenomena Yesus, Neumena kristus
Bagi orang-orang pada jamanNya, Yesus merupakan sebuah fenomena. Ia adalah seorang guru yang mengajar dengan penuh kuasa; penyembuh dari segala penyakit dan kelemahan; pembela anak-anak, perempuan dan fakir miskin; seorang pemberani yang suka melontarkan kritik pedas terhadap para pembesar agama dan penguasa politik yang korup. Kata orang, Yesus disejajarkan dengan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi (Mat 16:13-14).

Namun Petrus mampu memahami Yesus bukan sekedar sebagai fenomena. Ia bukan sekedar sebagai guru yang hebat, penyembuh ulung, pembela kaum miskin, aktivis perubahan. Petrus menangkap bahwa dalam diri Yesus ada dimensi spiritual. Ia adalah Orang yang Terurapi atau Kristus (bahasa Yunani) atau Mesias (bahasa Ibrani. Ia adalah juga sebuah neumena: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:15)

Banyak orang di Galilea ingin mengikuti Yesus, namun tidak sedikit yang mengundurkan diri. Mengapa? Yesus memperkenalkan diri bahwa Dia adalah roti yang turun dari surga (Yoh 6:41). Ia bermaksud mengatakan bahwa diriNya bukan sekedar fenomena tapi juga neumena. Namun orang-orang Yahudi hanya menangkap Yesus sebatas fenomena: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapaNya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?” (Yoh 6:42)

Olah Kesadaran, Bukan Olah Pikiran
Orang seringkali hanya berhenti pada pikiran dan hidup sebatas fenomena. Orang punya berbagai pikiran tentang Tuhan. Tuhan itu manis, baik, adil, penuh kuasa, dst. Namun orang tidak sungguh-sungguh mau menikmati manisnya Tuhan. Orang puas berpikir bahwa Tuhan itu manis, namun tidak sungguh-sungguh menikmati manisnya Tuhan.

Ambilah sebuah apel dan taruhlah di telapak tangan anda. Seperti apa rasanya buah apel tersebut? Anda berpikir bahwa buah apel itu manis. Namun pikiran tidak sama dengan kesadaran. Sadar dan merasakan manisnya buah apel itu berbeda dengan berpikir tentang manisnya buah apel.

Menjamah Tuhan tidak bisa dicapai dengan olah pikiran, tapi membutuhkan praktek atau latihan kesadaran. Latihan ini bisa dilakukan dalam kesibukan sehari-hari. Ambil contoh praktek kesadaran makan. Ada dua cara orang makan. Pertama, makan supaya tidak lapar lagi, sehat, kuat, dst. Kedua, makan supaya makan. Banyak orang menghidupi pola pertama. Orang makan tidak sungguh-sungguh makan karena dikejar oleh pikiran masa lampau atau pikiran masa depan. Tidak seperti pola kedua, saat makan sesungguhnya orang hanya makan pikirannya sendiri, bukan sungguh-sungguh makan dengan penuh kesadaran. Orang dikejar oleh fenomena masa lampau atau masa depan. Kalau orang tidak sungguh-sungguh sadar dan menikmati saat makan sekarang dan di sini, bagaimana mungkin orang mampu menyentuh fondasi makan?

Latihan dalam menggunakan Energi Kesadaran pada setiap moment kehidupan harian perlu terus-menerus dilakukan. Mengapa? Karena kecenderungan jaman untuk mengikuti pikiran sering lebih kuat daripada kesadaran.

Kita seringkali hidup hanya mengikuti pikiran yang terus bergerak dan berubah-ubah. Diri kita mudah tersandra pada dunia fenomena. Ini membuat kita justru bergerak menjauh dari hati kita dan sering tidak konsisten dengan gerakan hati kita. Energi untuk terus bergerak-berpindah (Energy of restlessness) dan inkonsisten (energy of inconsistency) ini begitu kuat mengakar dalam peradaban kita dan sudah menjadi kebiasaan (habit).

Maka upaya teratur untuk berefleksi dan bertanya menjadi penting. Pertama, apakah kita masih memegang control dunia fenomena di sekitar kita dan bukan sebaliknya? Kedua, adakah kebiasaan yang perlu dihentikan atau diubah?

Anda bisa mulai mencoba memberikan perhatian atau peduli pada kebiasaan-kebiasaan anda selama periode tertentu dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan itu selama periode tertentu sejauh tidak ada orang lain yang dirugikan. Langkah ini akan membantu menguak “struktur dalam” dunia neumena dan pada saatnya akan memberikan perspektif yang segar dalam berelasi dengan “struktur luar” dunia fenomena.

Jamahlah fondasi dunia fenomena! Jamahlah Tuhan dalam hidup harian anda! Seperti apakah Dia?*

-o0o-

Read More..

Monday, June 9, 2008

Meditasi

By Rm.J.Sudrijanta, SJ on January 10th, 2008

Meditasi kini sudah makin menjadi kebutuhan banyak orang. Tidak peduli latar-belakang agama, kebudayaan, ideology, dan profesi seseorang. Makin banyak orang sungguh-sungguh mencari kesehatan, kedamaian dan pembebasan batin. Ritus keagamaan, perayaan seni dan budaya, orientasi ideology dan profesi seseorang tidak mampu menjawab kekosongan ini.

Meditasi pertama-tama bukanlah teknik tetapi keahlian (skill) yang hanya bisa dikuasai kalau dipraktekkan. Ia menghantar orang untuk hidup lebih dalam, yaitu "hidup secara penuh pada di sini dan sekarang."
*
Untuk bisa hidup secara penuh pada di sini dan sekarang, pertama-tama anda perlu secara sadar memberikan perhatian secara terus-menerus pada saat sekarang (sustain attention on the present moment). Saat sekarang di sini adalah saat meditasi. Cara yang paling cepat untuk masuk pada saat sekarang adalah dengan mengembangkan kehendak dan energi untuk melepas segala sesuatu. Lepaskan seluruh beban masa lampau dan beban masa depan. Lepaskan segala pikiran dan emosi yang menggayut. Lepaskan segala jenis pikiran: baik atau buruk, luhur atau biasa, suci atau profane. Segala beban yang ditinggalkan akan membuat hidup lebih bebas dan ringan. Melepas, itulah fondasi pertama semua meditasi.

Gunakan energi kesadaran anda. Energi kesadaran anda adalah seperti kaca transparan. Ketika ada pikiran atau emosi yang masuk, sadarilah ada pikiran dan emosi yang masuk. Ketika pikiran dan emosi pergi, sadarilah pikiran dan emosi pergi. Itulah fungsi dari energi kesadaran aktif-reseptif. Lewat kaca kesadaran ini, anda mengetahui secara jernih arus masuk dan keluarnya pikiran dan emosi anda.

Perhatian yang terus menerus atas pikiran dan emosi anda akan membuat pikiran dan emosi anda berhenti. Menerima apa adanya dan membiarkan pergi apa adanya. Ketika pikiran dan emosi berhenti, anda dibawa masuk pada kesadaran hening yang jernih. Anda bisa mulai menikmati keheningan yang indah.
*
Perhatian secara terus-menerus pada saat sekarang akan membawa anda masuk pada fondasi yang kedua, yaitu kesadaran-hening pasif-responsif pada saat sekarang (silent awareness of the present moment).

Kesadaran hening ini bisa dicapai dengan peduli pada pikiran dan emosi anda apa adanya tanpa reaksi mental. Pikiran atau emosi anda adalah seperti seorang anak bayi yang butuh perhatian. Perlakukan pikiran dan emosi anda seperti anda memperlakukan anak bayi anda. Terimalah pikiran dan emosi anda tanpa memberi komentar atau penilaian. Tidak peduli pikiran atau emosi anda menyenangkan atau tidak menyenangkan. Terimalah apa adanya tanpa komentar batin.

Anda adalah bagaikan tuan rumah bagi tamu-tamu pikiran dan emosi anda. Ketika anda memberikan komentar batin, maka anda sudah terperangkap pada satu pikiran atau satu emosi anda. Akibatnya, ruang gerak anda menjadi terbatas. Anda tidak mempunyai ruang lagi untuk tamu-tamu yang lain. Anda kehilangan kesempatan untuk mengenal apa adanya tamu-tamu yang lain. Seperti seorang tuan rumah yang sepenuhnya sadar akan apa yang sedang berlangsung, anda cukup memberikan salam pada setiap tamu anda tanpa ada satupun yang ketinggalan. Berilah senyum yang terbaik dan jangan berbincang sesingkat apapun.

Energi kesadaran hening ini bisa ditingkatkan dengan melepaskan diri dari segala reaksi mental. Kalau anda hadir secara sempurna pada setiap peristiwa atau setiap pikiran dan emosi anda, maka anda terbebaskan dari segala komentar atau percakapan batin. Dengan melepaskan diri dari kebiasaan memberikan komentar dan penilaian, anda akan menjadi lebih bebas. Anda akan mengalami beban yang anda panggul bertahun-tahun seumur hidup anda, kini menjadi ringan.

Metode lain untuk mengembangkan kesadaran-hening pasif-responsive adalah dengan mengenali jeda-antara pikiran atau emosi, jeda-antara reaksi mental. Sadarilah saat-antara ketika pikiran berhenti dan sebelum pikiran yang lain muncul, atau saat-antara ketika reaksi mental berhenti dan sebelum reaksi mental yang lain muncul. Jeda-antara itulah yang disebut dengan keheningan. Semakin panjang jeda-antara, semakin dalam keheningan anda nikmati.
*
Setelah melepaskan diri dari pikiran atau emosi masa lampau dan masa depan serta membebaskan diri dari percakapan batin, anda masuk pada keheningan yang dalam. Anda kini siap untuk masuk pada tahap meditasi berikutnya, yaitu meditasi terfokus (concentrative meditation) atau meditasi tak-terfokus (receptive meditation).

Dalam meditasi terfokus, anda mengambil focus tunggal sebagai objek kesadaran anda. Focus tunggal ini bisa apa saja: nafas anda, bunga, iman, teks Kitab Suci, dst. Perhatian yang terus-menerus pada focus tunggal ini membuat anda terserap pada objek pilihan anda.

Dalam meditasi tak-terfokus, anda terbuka terhadap berbagai pengalaman yang datang. Anda hanya duduk dengan penuh kesadaran-hening, penuh perhatian- telanjang, bebas dari komentar batin, visualisasi atau interpretasi.

Meditasi terfokus seringkali membantu untuk lebih mensinergikan energi kesadaran. Namun sebelum sampai pada pilihan focus tunggal, diandaikan orang sudah mampu membangun dua fondasi yang pertama secara kuat. Tanpa dua fondasi yang pertama ini, orang akan selalu menghadapi rintangan yang terus akan berulang: a) kelekatan pada pikiran atau emosi masa lampau dan masa depan; b) percakapan batin atau reaksi mental.
*
Ketika anda mengambil focus tunggal dengan terlebih dahulu membangun dua fondasi pertama secara solid, maka anda dibawa masuk pada pengalaman penyerapan yang sempurna (perfect absorptions). Penyerapan yang sempurna kemudian akan membuat anda bersatu dengan segala sesuatu atau dengan focus pilihan anda. Ambillah nafas sebagai contoh ilustratif.

Ketika anda memberikan perhatian sempurna pada nafas anda, maka anda akan bisa menikmati nafas anda secara mendalam. Pada titik tertentu, nafas anda sebagai objek tunggal menghilang; subjek juga menghilang. Kini anda bukan hanya menikmati nafas anda, namun anda masuk dalam kesatuan sempurna dengan nafas anda. Nafas anda jadi lenyap. Tidak ada lagi tarikan nafas atau keluaran nafas. Dunia di luar seolah berhenti: nafas, tubuh, pikiran, suara, dst. Yang ada adalah keindahan terus-menerus tiada henti. Anda bersatu dengan alam semesta dan Tuhan.

Dalam tradisi timur, nafas bukanlah sekedar udara yang memberikan energi kehidupan bagi tubuh lewat dua lubang hidung. Namun nafas kita adalah nafas alam semesta. Lewat nafas, kita masuk pada relasi harmoni dengan alam kosmis yang hidup. Serupa dengan perspektif timur ini, tradisi barat juga memandang bahwa nafas atau angin atau spiratio disejajarkan dengan Roh Kudus atau Energi Allah sendiri yang bernafas dalam diri kita sehingga kita hidup. Energi Allah itu menyatukan kita dengan semua orang, seluruh ciptaan dan Allah itu sendiri. Dalam tradisi Kristiani, Roh Pemersatu itu adalah Roh Kristus atau Kesadaran Kristus itu sendiri.

Kini pada tahap kelima, anda mengalami berhentinya dualitas secara sempurna. Segala sesuatu anda alami sebagai kesatuan. Anda mengalami pencerahan, pembebasan dan kedamaian yang intense. Seluruh pemahaman anda diperbaharui.
*
Ketika kembali pada hidup harian, anda membawa kesadaran meditative yang baru. Kebiasaan bermeditasi setiap hari membuat energi kesadaran anda lebih tinggi dibanding rata-rata orang lain yang tidak pernah berlatih meditasi. Dalam meditasi duduk (sitting meditation), orang berlatih untuk memberikan perhatian penuh pada moment di sini dan sekarang. Perhatian yang tak terbagi selama bermeditasi menyiapkan basis yang solid untuk menjalani hidup harian dengan energi ketunggalan. Dengan demikian praktek meditasi harian membantu anda hidup secara penuh pada setiap moment hidup harian anda.

Dalam tradisi meditasi Zen, meditasi berjalan (walking meditation) mempunyai tempat khas sebagai penjembatan dari meditasi duduk ke meditasi hidup harian. Dalam meditasi berjalan, anda berlatih untuk bersatu dengan setiap gerak langkah anda. Anda berlatih untuk menikmati setiap gerak langkah kaki sebagaimana adanya. Berjalan seperti apa adanya, bebas dari aktifitas berpikir atau perbincangan batin. Tujuan dari langkah anda adalah langkah anda itu sendiri. Kesadaran meditative saat duduk anda bawa saat berjalan; kesadaran meditative saat berjalan kemudian anda bawa saat beraktifitas dalam kesibukan harian.
*
Ketika anda memberikan perhatian penuh pada setiap moment 24 jam setiap hari, anda telah masuk pada jantung meditasi kehidupan. Anda bersatu dengan kehidupan itu sendiri. Meditasi Zen melatih anda untuk masuk pada pengalaman kesatuan kosmis ini. Kalau anda bermeditasi dengan mata tertutup, anda mengalami penyerapan internal (internal absorptions) yang intense atas objek pilihan anda. Sebaliknya, kalau anda bermeditasi dengan mata sedikit terbuka, anda cenderung untuk bersatu (merge) dengan lingkungan dan objek pilihan anda.

Meditasi Zen tetap mempertahankan posisi mata sedikit terbuka untuk dua maksud sekaligus: supaya pemeditasi bukan hanya mengalami penyerapan internal tetapi juga kesatuan kosmis dengan lingkungan atau focus pilihan. Oleh karena itu, Meditasi Zen melatih pemeditasi untuk tidak menutup kontak dengan dunia visual di luar. Posisi mata sedikit terbuka memberikan ruang lebih lebar untuk mengembangkan kesadaran meditative di tengah kesibukan harian. Selain mengurangi kecenderungan untuk tertidur dan lembek, posisi mata sedikit terbuka juga akan mengurangi halusinasi, visualisasi, dan imaginasi yang menghalangi proses penyerapan dan kesatuan kosmis.*

Read More..

Saturday, June 7, 2008

Read More..

Hari Sabtu - Tanggal 25 Desember 2004 - Hari Natal
Seperti biasa, kami berdua kalau Natalan pergi ke gereja pagi hari, bukan malam Natal tapi pas hari Natal-nya... karena sudah rutin kalau malam Natal kami berdua selalu pergi.
Berhubung kami tidur larut malam, maka kami putuskan untuk mengikuti misa Natal yang kedua yaitu pk. 08.00 wib.
Misa tsb. adalah misa Natal anak-anak... jadi ada peragaan dari anak-anak kecil... ada yang jadi Maria dan Yusuf... ada 9 anak jadi malaikat... dsb...Pokoknya rame dan lucu-lucu.... umur anak2 sekitar 3-4 tahun....
Yah... benar-benar ada suka-cita di hari Natal tsb.... karena ya memang menyambut kedatangan Yesus... kelahiran Yesus... Sang Juru Selamat kita....
Ketika pada saat Konsekrasi.... ntah kenapa hati saya begitu sedih.... sedih... dan sedih... trus saya menangis... ntah saya sendiri tidak tahu kenapa??? lebih-lebih dalam doa Bapa Kami saya sungguh-sungguh menangis... seperti ada yang ingin saya ucapkan... yaitu mohon belas kasihan Tuhan.... saya sendiri sudah tidak kuat berdiri... seperti biasa dalam doa Bapa Kami umat berdiri.... saya paksakan untuk berdiri.... dan suami saya yang penggangin tangan saya.
Hihihi... jadi malu saya menangis sendirian.....
Nah... biasa pada waktu salam damai... saya sudah tidak menangis lagi.... dan kembali normal.
Sampai di rumah.... suami saya tanya pada saya: nik, tadi kenapa kok nangis... gak biasanya kamu nangis.... saya jawab: gak tahu... aku nggak ngerti ......hatiku sedih aja... tiba2 ya aku nangis ....

Hari Minggu - Tanggal 26 Desember 2004 - Pesta Keluarga Kudus
Kami berdua kalau pergi ke gereja hari Minggu ambil misa pertama pk. 06.00.
Kejadiannya sama....pada saat Konsekrasi... saya menangis lagi... sekali lagi saya tidak tahu kenapa... ada apa... dan tetap saya berdiri pada waktu doa Bapa Kami.... biasa suami saya yang pegangin saya..... oyaaa.... Yang duduk di sebelah kanan saya pas seorang suster.... hehehe... jadi maluuu..... susternya tanya: ibu... kenapa? sakit yahhh.... saya jawab: nggak suster... nggak apa-apa..... trus pada waktu doa salam damai...saya sudah normal kembali....
Seperti biasa selesai misa.... saya berdoa keliling... pertama ke Tabernakel... ke Bunda Selalu Menolong.... Kali ini ada tambahan ke tempat Bayi Yesus.... terakhir ke Keluarga Kanak-Kanak Yesus.....
Wuihh.... udah sepiiiiii..... tapi masih sempat menyapa romo...hehehe....
Sampai di rumah yah sekitar pk. 7.30.... dari gereja ke rumah hanya memakan waktu 4 menit... hehehe dekat khann...
Pulang dari gereja kami sarapan pagi sambil nonton tv..... nah sekitar pk. 8.00 lebih ada berita bahwa ada gempa bumi di Aceh... kayaknya sih belum disebut ada badai/gelombang tsunami.... setelah itu ada berita-berita selanjutnya yang menyatakan bahwa ada gelombang tsunami dst....

Teman-teman ytk,
Saya memang kurang peka.... kadang saya gregetan ama Tuhan hehehe.... karena yang saya tahu Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu kepada saya dalam bentuk "instan" saya sendiri yang musti mikir... apa sih artinya... kena apa sih...ada apa sih .....dst....
Dulu pernah saya tanya kepada 2 orang romo dengan jawaban lain-lain.... kalau saya mengalami sesuatu ... saya mikirrrrr terus....apa sih artinya? Jawaban romo: ya nggak usah dipikir... nanti juga akan tahu sendiri apa artinya.... Ohh gitu yah Mo... yahhh memang sih... akhirnya jawabannya selalu ada .... walau pun perlu waktu tidak langsung...Ohhh itu tho Tuhan artinya.
Ada lagi jawaban romo lain: lhoo kok tanya pada saya.... tanya aja pada Tuhan sendiri (romonya sambil menunjuk ke atas)... hehehe benar juga yahhh.... memangnya romo tahu apa yang dimaksud Tuhan buat saya.....
Teman-teman... itulah sedikit sharing saya....
- - - --
"Untuk kita renungkan" oleh Ebiet G.Ade

Anugrah dan bencana ... adalah kehendakNYA
Kita musti tabah menjalani....
........
- - - - -
Sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya....
Apa kehendak Tuhan untuk kita semua.... pasti ada....
Sedih... iba... miris .... pasti ada dalam hati kita semua...
Tapi tidaklah perlu untuk berkepanjangan.....
Dengan berjalannya waktu ......
Semoga mereka yang kena musibah... lambat laun akan semangat kembali...
Hidup harus tetap kita jalani....
Satu harapan saya...
Semoga tidak terjadi gempa dan gelombang tsunami susulan....
Tuhan ... ampunilah kami...
Tuhan.... kasihanilah kami...
Tuhan ... kabulkanlah doa kami....
Inilah pinta kami dari anak-anakmu yang berdosa...
Yang telah menyakitiMu Tuhan....
Terima kasih Tuhan...
Terima kasih Tuhan...

Salam kasih,
suyin
Jakarta, 3 Januari 2005

Read More..

Friday, June 6, 2008

Read More..

Babe Re yang terkasih.....
Kepergianmu sungguh membuat aku kaget .....
Seluruh tubuhku bergetar mendengar berita itu...
Aku sungguh menangis haru sedih seakan tak percaya....

Tuhan...apakah sungguh-sungguh Babe telah KAU panggil ....
Biarlah kehendakMu saja yang terjadi...
Engkau yang punya rencana dan kehendakMu yang terbaik...
Biarkan saat ini aku menangis... menangis dan menangis....

Aku merasa sangat kehilangan...
Kehilangan seseorang yang membuat hati sejuk...
Banyak yang telah Babe berikan sebagai kenangan...
Artikel, sharing, diskusi, nasehat-nasehat dan canda-rianya...
Saat kita bersama-sama didalam salah satu komunitas milis diskusi katolik...

Kenangan tinggal kenangan...
Tapi namamu masih terngiang....
Dengan hati lapang dan pasrah....
Doaku menyertaimu...

Kuhantar Babe ke tempat Bapa...
Suatu waktu pasti kita akan berjumpa...
SELAMAT JALAN BABE RE....

Salam kasih,
-suyin-
22 Maret 2005

Read More..