Orang mengira gagasan, ideologi, teori, ajaran, kepercayaan tertentu mampu menggerakkan revolusi. Kalau pun bisa, itu bukan revolusi sejati. Kenyataannya, pikiran dan semua manifestasinya itu justru menjadi penghambat roda revolusi. Sudah ada energi vital dalam setiap revolusi. Ia berada di luar lingkup pikiran. Bagaimana roda revolusi yang sesungguhnya itu bergerak?
Thursday, November 27, 2008
Read More..
Orang mengira gagasan, ideologi, teori, ajaran, kepercayaan tertentu mampu menggerakkan revolusi. Kalau pun bisa, itu bukan revolusi sejati. Kenyataannya, pikiran dan semua manifestasinya itu justru menjadi penghambat roda revolusi. Sudah ada energi vital dalam setiap revolusi. Ia berada di luar lingkup pikiran. Bagaimana roda revolusi yang sesungguhnya itu bergerak?
Sunday, August 17, 2008
Read More..
By Rm. J. Sudrijanta, SJ on May 29th, 2008
Tubuh seringkali dilecehkan. Ia sering diperlakukan sebagai alat untuk mengejar kesenangan dan kepuasan. Ia seringkali dituduh sebagai biang keladi segala kelemahan. Tidak heran, dalam relasi dengan Tuhan, orang sering hanya memusatkan perhatian pada hati dan budi dan kurang menghargai peran tubuh. Padahal dengan menyentuh tubuh apa adanya ini, kita menyentuh Tubuh Kristus.
Hanya ada satu pintu menuju Bapa yaitu Kristus, namun ada banyak pintu menuju Kristus. Pintu itu tidak lain adalah tubuh kita sendiri. Bagaimana menyentuh Tubuh Kristus melalui pintu tubuh ini?
Tubuh ini adalah Kristus
Yang dimaksud tubuh ini adalah keseluruhan diri ini: materi dan roh, tubuh fisik dan pikiran, rasa perasaan fisik dan mental dst. Keduanya saling mempengaruhi. Marilah kita melihat lebih khusus hubungan timbal-balik antara pikiran dengan tubuh.
Perhatikan nafas tubuh anda. Kalau anda sedang gelisah atau marah, nafas anda bekerja dengan cepat dan pendek-pendek. Sebaliknya kalau sedang tenang dan damai, nafas anda lembut dan panjang-panjang. Pikiran yang kacau membuat nafas anda kacau; pikiran yang tenang membuat nafas anda tenang. Dengan memberikan perhatian pada nafas anda, maka anda mampu lebih tajam menyadari gerak pikiran dan perasaan anda.
Tubuh ini merupakan ekspresi materiil dari pikiran dan pikiran merupakan ekspresi non-materiil dari tubuh. Tubuh pada dirinya bernilai karena tidak kurang mengekspresikan sesuatu yang melampauinya dan tidak lebih mengekspresikan realita apa adanya.
Seperti halnya nafas menjadi jembatan penghubung antara pikiran dan tubuh fisik, maka tubuh secara keseluruhan ini menjadi jembatan penghubung antara yang materiil dan non-materiil. Ia seperti satelit yang menghubungkan surga dan bumi, yang imanen dan yang transenden. Tubuh ini, tidak kurang tidak lebih, adalah Kristus.
Kristus Ekaristi
Tunjukkan seperti apakah Tubuh Kristus itu? Dimanakah anda menemukanNya? Anda boleh menunjuk pada Tabernakel tempat Hosti Kudus ditahtakan. Itu jawaban yang tidak salah tapi kurang lengkap. Anda boleh menunjuk kearah diri anda tempat Kristus tinggal di dalam hati anda. Itu juga tidak salah tapi masih kurang lengkap. Gambaran Tubuh Kristus yang lengkap tidak bisa dipisahkan dari gambaran Kristus yang hadir dalam tubuh anda ini. Menghayati Kebenaran Injil tanpa mengintegrasikannya dalam keseluruhan tubuh anda ini kurang menangkap pesan Injil secara komplit.
Dalam perayaan Ekaristi, umat Kristiani bukan sekedar mengenang Yesus yang pernah hidup, mati dan bangkit 2000 tahun yang lalu, namun mengenang dan merayakan Kristus yang mati dan hidup Saat Sekarang. Seorang imam dalam perayaan Ekaristi menghadirkan Kristus Ekaristi di tengah-tengah umat.
Setelah memohon turunnya Roh Kudus, seorang imam yang mempersembahkan Ekaristi memberkati roti dan anggur. Sejak itu, roti dan anggur perlakukan bukan sebagai lambang atau tanda tetapi sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Di sana terjadi trans-substansi: materi roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Dengan makan Tubuh Kristus dan minum DarahNya, umat menyentuh sedalam-dalamnya Tubuh Kristus sendiri, Tubuh Realita, Tubuh Keberadaannya yang paling dalam. Dengan menerima Tubuh Kristus, tubuh anda bersatu dengan Tubuh Kristus. Anda disadarkan kembali realita dasar bahwa tidak ada pemisahan antara anda dengan Kristus, antara yang imanen dengan yang transenden.
Seperti halnya es tidak bisa dipisahkan dari air, begitu pula anda dari Kristus. Di luar air tidak ada es, begitu pula di luar Kristus tidak ada anda. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yoh 1:3)
Banyak murid Yesus mengikutiNya kemana saja Ia pergi. Mereka mempunyai kesempatan melihat dari dekat seperti apakah Yesus itu. Namun Yesus tahu mereka belum sungguh-sungguh berelasi secara nyata denganNya, belum sungguh-sungguh menyentuh Tubuh RealitaNya. Maka Ia menggoncang para muridNya supaya bangun dan tersadar.
”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia.” (Yoh 6:53-54, 56)
Perkataan itu menggoncang iman para muridNya. Mereka yang tidak siap mengundurkan diri dan tidak lagi mengikutiNya. Namun mereka yang bertahan dan mempunyai kontak nyata denganNya memperoleh hidup. Kisah pencerahan para murid di Emaus dan murid-murid lain pasca kebangkitan Yesus dari kematian menguatkan kebenaran yang telah dikatakanNya.
Seribu Pintu Menuju Kristus
Tidak sedikit orang merayakan Ekaristi tanpa kesadaran bahwa Tubuh Kristus begitu dekat dengan tubuh kita, bahkan bersatu secara tak terpisahkan. Mereka ini seperti hantu-hantu yang lapar. Mereka menerima Tubuh Kristus namun tidak pernah kenyang dan tidak mengalami kehidupan. Selesai Ekaristi, mereka kembali kepada kehidupan biasa tanpa perubahan: tidak ada proses trans-substansi atau transendensi diri.
Tubuh tanpa Roh Kudus atau Roh Kristus adalah seperti tubuh tanpa jiwa. Orang yang hidup dengan tubuh tanpa jiwa adalah seperti orang yang mengusung mayat ke mana-mana dan mayat itu adalah dirinya sendiri.
Untuk menyentuh Tubuh Kristus, kita perlu hidup dengan tubuh ini apa adanya. Dalam tubuh ini ada banyak pintu: mata, telinga, hidung, lidah, tangan, pikiran, perasaan, dst. Mata atau telinga bisa menyesatkan ketika mereka bekerja terpisah dari keseluruhan tubuh ini. Alih-alih memotong tangan atau telinga, kita hanya perlu menggunakannya dalam kesatuan dengan keseluruhan tubuh ini.
Aku melihat Kristus dengan mata yang dipakai oleh Kristus untuk melihat aku.
Aku mendengarkan Kristus dengan telinga yang dipakai Kristus mendengarkan aku.
Aku berjalan mendekati Kristus dengan kaki yang dipakai Kristus untuk mendekati aku.
Aku bernafas dengan nafas yang dihembuskan Kristus sendiri kepadaku.
Tubuh ini adalah Kristus.
Di sini ada Keindahan dan Kepenuhan Hidup.*
Read More..
By Rm. J. Sudrijanta, SJ on May 29th, 2008
Orang lahir sendirian dan mati juga sendirian. Namun sepanjang hidup banyak orang takut hidup dalam kesendirian. Takut sendiri membuat orang mencari teman, entah orang atau sesuatu yang lain. Hadirnya teman tidak serta-merta menghilangkan ketakutan terhadap kesendirian, namun bisa malah menjerumuskan orang kepada kesepian. Kesendirian bukanlah kesepian. Hidup dalam kesendirian adalah hidup dalam keterhubungan dan kesatuan dengan segala sesuatu.
Kesepian
Setiap orang pernah mengalami kesepian, tidak peduli umur atau jenis kelamin. Seorang remaja merasa kesepian saat akhir pekan tiba karena tidak mempunyai seorang teman. Seorang nenek kesepian semenjak anak-anaknya pergi untuk membangun rumah tangganya sendiri.
Orang berpikir kesepian bisa dihilangkan dengan menghadirkan teman. Teman itu bisa bernama orang, pacar, pendamping hidup, anak-anak, sahabat. Teman itu bisa berbentuk barang, harta kekayaan, uang, makanan enak, buku, TV, radio, hand phone atau alat-alat komunikasi lain. Teman itu juga bisa berwujud abstrak seperti ide, pengetahuan, kepercayaan, pekerjaan, hobi, kegiatan, keluarga, perkumpulan, komunitas biara.
Orang yang tidak sadar akan cenderung melarikan diri dari kesepian. Ia akan mencari teman dalam berbagai bentuk dan melekat kepadanya. Kalau hubungan dengan objek di luar itu menimbulkan kepahitan, maka ia akan melepaskannya. Namun kemudian ia akan mencari pengganti dan melekat kembali. Begitulah seterusnya. Ketakutan akan kesepian membuat orang jatuh dalam kelekatan dan kelekatan akan membuat orang semakin kesepian.
Orang yang kesepian mudah mengeksploitasi orang atau sesuatu yang lain. Yang lain hanya dipakai sejauh mampu mengisi kesepian batin. Dalam relasi itu tidak ada hubungan yang sungguh setara, demokratis dan adil.
Orang yang kesepian juga mudah dieksploitasi oleh yang lain. Kemajuan informasi dan teknologi menyediakan berbagai rangsangan supaya orang terhindar dari kesepian. Sebanyak apapun teman dari luar, kesepian tetap tidak beranjak pergi.
Kesepian berhenti kalau orang berani berhenti dari mekanisme pelarian diri. Menerima kesepian seperti apa adanya membuat orang berani hidup dalam kesendirian.
Kesendirian
Kesendirian berbeda dengan kesepian. Kesepian adalah keterputusan hubungan dengan sesuatu yang lain. Kesendirian adalah bebasnya diri dari segala sesuatu, bebasnya diri dari segala kelekatan terhadap sesuatu. Segala sesuatu itu bisa mencakup orang, barang atau sesuatu yang abstrak seperti pengetahuan dan kepercayaan.
Kehidupan individualistic bukanlah bentuk kesendirian yang dimaksud. Kehidupan individualistic adalah bentuk lain dari kesepian. Di sana terdapat pembatasan atau keterputusan dari kesatuan dengan segala sesuatu dan hubungan-hubungan yang lebih luas.
Dalam kesendirian itu orang justru mengalami keterhubungan dan kesatuan dengan segala sesuatu. Ia terhubung dan bersatu dengan segala sesuatu. Itulah paradoks kesendirian.
Misteri Keterhubungan dan Kesatuan Allah Tritunggal
Dalam tradisi Kristiani, Allah diimani sebagai yang berpribadi tiga tapi berentitas Tunggal: Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Satu ada dalam banyak dan banyak ada dalam Satu. Masing-masing hidup dalam kepribadian yang otentik namun terbuka tanpa batas satu dengan yang lain. Mereka hidup selalu dalam keterhubungan dan kesatuan.
Awan, hujan dan samudra raya adalah wujud yang berbeda-beda. Namun mereka juga tidak berbeda. Mereka berhakekat satu. Air merupakan esensi dari semuanya. Tidak ada awan, hujan atau samudra tanpa air. Mereka selalu hidup dalam keterhubungan dan kesatuan.
Allah menciptakan manusia tidak seperti tukang kayu menciptakan meja dan kursi. Tukang kayu punya jarak dengan hasil karyanya. Begitu hasil karyanya jadi, ia tidak terlibat lagi dengan nasib hasil karyanya. Berbeda dengan Allah. Ia menciptakan kita dan terus terlibat dalam kehidupan kita. Ia bukan Allah yang sekali menciptakan kita lalu berdiri di luar kita.
Hubungan kita dengan Allah adalah seperti hubungan air dengan awan. Tidak ada awan tanpa air. Begitu pula tidak ada Allah di luar diri kita. Kita adalah bagian dari Allah seperti awan bagian dari air.
Misteri Keterhubungan dan Kesatuan Kita
Kita tercipta segambar dengan Allah. Misteri keterhubungan dan kesatuan Allah Tritunggal itu adalah juga misteri kehidupan kita. Kita selalu terhubung dan bersatu dengan Allah, sesama dan alam semesta. Itulah gambar Allah, gambar kehidupan Ilahi, gambar kehidupan kita yang sesungguhnya.
Yesus mengatakan: “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30) Dalam doaNya bagi para muridNya, Ia kembali menegaskan hakekat keterhubungan dan kesatuan itu: “Inilah kehidupan yang kekal itu…supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga ada di dalam Kita…Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu…bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” (Yoh 17:3, 21, 23-26)
Paulus mengatakan bahwa “Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” (Kol 3:11) Kristus yang satu ada dalam banyak dan banyak ada dalam satu: “Sesungguhnya apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Yoh 25:40)
Bapa ada di dalam Kristus dan Kristus di dalam Bapa. Kristus ada di dalam kita dan Kita ada di dalam Kristus. Kita ada di dalam segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam kita. Melalui Yesus dan dalam kesatuanNya dengan Bapa, kita melihat keterhubungan dan kesatuan seluruh ciptaan. Segala sesuatu yang tercipta bersumber dari, hidup dan akan kembali kepadaNya. Allah, dunia dan kita terhubung dalam jalinan kesatuan.
Latihan Doa
Nyatalah bahwa kesatuan Allah dengan dunia dan kesatuan Kita satu dengan yang lain merupakan analog dari kesatuan Tritunggal Mahakudus. Kesadaran akan keterhubungan dan kesatuan segala sesuatu ini akan melenyapkan energi keterasingan atau kesepian manusia. Doa berikut bisa dipakai sebagai latihan untuk menyingkap misteri kehidupan sebagai keterhubungan dan kesatuan segala sesuatu.
Ya Allah Tritunggal Mahakudus,Setiap orang yang aku cintai, itu adalah Engkau.Setiap orang yang mencintaiku, itu adalah Engkau.Setiap kebaikan yang aku alami, itu adalah Engkau.Setiap hal yang membuat aku seperti apa adanya ini, itu adalah Engkau.
Engkau yang Satu ada dalam banyak dan banyak dalam Satu.Engkau ada dalam segala sesuatu dan segala sesuatu ada dalam Engkau.Perkenankanlah aku dimasukkan ke dalam Misteri KehidupanMuBahwa segala sesuatu saling terhubung dan berada dalam kesatuan.
Di luar Engkau, aku hidup dalam kesepian.Di dalam Engkau, aku hidup dalam kesendirian.Dalam kesendirian itu, Engkau ada.Di sana aku hidup dalam keterhubungan dan kesatuan dengan segala sesuatu.*
Ya Allah Tritunggal Mahakudus,
Setiap orang yang aku cintai, itu adalah Engkau.
Setiap orang yang mencintaiku, itu adalah Engkau.
Setiap kebaikan yang aku alami, itu adalah Engkau.
Setiap hal yang membuat aku seperti apa adanya ini, itu adalah Engkau.
Engkau yang Satu ada dalam banyak dan banyak dalam Satu.
Engkau ada dalam segala sesuatu dan segala sesuatu ada dalam Engkau.
Perkenankanlah aku dimasukkan ke dalam Misteri KehidupanMu
Bahwa segala sesuatu saling terhubung dan berada dalam kesatuan.
Di luar Engkau, aku hidup dalam kesepian.
Di dalam Engkau, aku hidup dalam kesendirian.
Dalam kesendirian itu, Engkau ada.
Di sana aku hidup dalam keterhubungan dan kesatuan dengan segala sesuatu.
Sunday, July 13, 2008
Read More..
By Rm. J. Sudrijanta, SJ on May 13th, 2008
Saat Sekarang adalah saat Keabadian. Di sana ada Damai, Ketenangan, Kasih, Sukacita tanpa batas. Damai tanpa batas itu berasal dari Alam Surgawi di luar arus dunia. Ia bagaikan medan gelombang energi yang tidak punya kebalikan. Maka Damai tanpa batas yang dimaksud itu bukan lawan dari konflik, Ketenangan bukan lawan dari kegaduhan, Kasih bukan lawan dari benci, Sukacita bukan lawan dari dukacita.
Untuk masuk pada Alam Surgawi, arus dunia musti berhenti. Dualitas konflik dan damai, suka dan duka, cinta dan benci hanya ada dalam arus alam fenomena. Di alam neumena, tiada lagi dualitas. Yang ada adalah kesatuan dalam segala sesuatu. Bagaimana mungkin orang bisa masuk Alam Surgawi sementara masih hidup di tengah dunia?
Dualitas Konflik dan Damai sebagai Ilusi
Pikiran kita sudah terbiasa membuat polarisasi. Dualitas konflik dan damai, suka dan duka, benci dan cinta dianggap sebagai nyata, padahal ilusi belaka. Lihatlah pengalaman saat anda didera oleh penyakit, kehilangan, gagal, kepahitan dalam berbagai bentuk. Anda begitu mudah melihat semua itu sebagai sesuatu yang buruk atau jahat. Namun pada moment tertentu kepahitan itu menyadarkan anda tentang hidup yang sejati atau Kebaikan Tertinggi. Setelah itu anda melihat kepahitan secara berbeda. Kepahitan ternyata menjadi bagian dari Kebaikan Tertinggi.
Ambillah kasus berikut sebagai contoh. Karena resesi ekonomi, ada seseorang yang kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ia berpandangan bahwa nasib buruk telah menimpanya. Ia menjadi bingung dan mudah marah. Karena terpepet oleh kebutuhan hidup, ia memberanikan diri untuk jualan barang-barang kelontong kecil-kecilan. Lama-lama usahanya makin maju dan memberikan penghasilan yang jauh lebih besar dibanding ketika ia bekerja sebagai karyawan. Kini ia melihat bahwa PHK bukan sebagai sesuatu yang buruk.
Orang yang tercerahi tidak akan melihat keberhasilan sebagai nasib baik dan kegagalan sebagai nasib buruk. Pahitnya hidup tidak identik dengan keburukan, manisnya hidup tidak identik dengan kebaikan. Karenanya gambaran bahwa dualitas berhasil dan gagal, baik dan buruk, kepahitan dan kemanisan sebagai suatu yang nyata merupakan sebuah kesesatan.
Alih-alih menilai sebuah kenyataan hidup dalam polaritas baik dan buruk, lebih bermakna melihat fakta kehidupan seperti apa adanya, tidak kurang tidak lebih. Di luar itu hanyalah ilusi.
Damai Batin sebagai Fakta
Kalau orang melampaui dualitas baik dan buruk, damai dan konflik, maka ia memahami dari pengalaman langsung apa artinya Damai Batin yang bukan lawan dari konflik, Sukacita Tak Terbatas yang bukan lawan dari dukacita, Kasih Suci yang bukan lawan dari benci.
Orang bisa jadi merasakan munculnya kesedihan saat ditinggal pergi oleh sahabat atau orang yang dikasihinya. Namun kesedihan atau polaritas sedih dan gembira yang disadari saat kemunculannya, langsung melenyapkan bangkitnya arus dualitas itu. Kini bukan kesedihan atau arus dualitas itu yang menguasai, melainkan Damai Batin tanpa batas.
Damai Batin selalu bersanding dengan fakta kehidupan. Pemutusan setiap rantai upaya untuk melarikan diri atau menentang fakta kehidupan akan memberikan peluang bagi Damai Batin untuk terlahir dalam diri anda.
Alam Surgawi
Saat anak bayi masih belum mengenal perbedaan antara baik dan buruk, mereka hidup dalam Kesucian, Damai dan Kepenuhan. Situasi berubah setelah mereka mengenal dualitas baik dan buruk. Kegelisahan dan kekhawatiran mulai merasuki hidupnya.
Dalam Kitab Kejadian dikisahkan bahwa Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa hidup dalam Damai dan Kepenuhan. Setelah memakan buah pohon pengetahuan baik dan buruk, mereka jatuh ke dalam dosa. Arus dualitas itu menjadi akar dosa dan dosa menenggelamkan manusia hidup dalam arus dualitas.
Arus dualitas adalah arus dunia. Di luar dunia, tiada arus dualitas. Keduanya sudah ada dalam diri setiap manusia. Dalam dunia bentuk, arus dualitas itu bergerak. Dalam Keberadaan kita di luar arus dunia, hanya ada Kesatuan. Di dunia bentuk di luar, medan gelombang energi selalu mempunya lawan. Di titik Keberadaan, kita menemukan medan gelombang energi yang solid, tidak punya lawan, tidak ada kebalikan.
Setiap makhluk yang hidup melampaui arus dualitas, hidup seperti di alam Surgawi. Nabi Yesaya menggambarkan datangnya Saat itu. “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.” (Yes 11:6) Pada Saat itulah, tidak akan ada yang berbuat jahat atau yang berlaku busuk.
Seorang Guru Rohani 2000 tahun yang lalu mengajak para muridNya untuk mencicipi Damai dari alam Surgawi itu ketika Ia menampakkan diri setelah kebangkitanNya dari kematian. Para muridNya yang tadinya didera oleh arus kesedihan dan ketakutan kini mengalami Sukacita. Mereka juga menerima Kekuatan Surgawi untuk bersaksi tentang Penyelamatan atau Pencerahan yang mereka alami. Orang-orang seperti itu bisa diandalkan dalam gerakan pembebasan atau penyelamatan untuk mengurangi berbagai bentuk kepedihan hidup di luar maupun di dalam batin.
Latihan Pelepasan
Keselamatan hanya terjadi kalau orang keluar dari arus dualitas dunia dan masuk ke Alam Surgawi. Hambatan terbesar masuk dalam alam Surgawi adalah identifikasi diri dengan berbagai bentuk kepedihan maupun kebahagiaan hidup. Maka latihan melepaskan diri dari arus dualitas itu akan membantu untuk memeluk Damai dan Kekuatan dari Alam Surgawi.
Kepahitan hidup bukanlah aku
Aku bukanlah kepahitan hidup
Aku tidak terperangkap pada kepahitan hidup
Aku hidup dalam Damai dan Kekuatan tanpa batas
Kemanisan hidup bukanlah aku
Aku bukanlah kemanisan hidup
Aku tidak terperangkap pada kemanisan hidup
Aku hidup dalam Damai dan Kekuatan tanpa batas
Aku bukanlah gelombang-gelombang yang berlawanan
Aku adalah samudra raya yang dalam dan luas tak terbatas
Aku tidak bergantung pada arus dunia yang saling berlawanan
Aku hidup dalam Damai dan Kekuatan tanpa batas.*
Sunday, July 6, 2008
Read More..
By. Rm. J. Sudrijanta, SJ on May 13th, 2008
Keabadian adalah Keberadaan dengan kedalaman tanpa batas. Di sanalah kepenuhan, ketenangan, damai dan cinta tanpa batas. Ia berada di luar arus waktu. Ia adalah tujuan akhir hidup anda. Saat Sekarang adalah Keabadian itu. Saat Sekarang anda sudah sampai Keberadaan anda yang paling dalam.
Saat Sekarang di Luar Arus Waktu
Orang biasa membagi waktu menjadi masa lampau, masa sekarang dan masa depan. Masa sekarang adalah penerusan dari masa lampau dan masa depan adalah proyeksi dari masa sekarang. Namun Saat Sekarang yang dimaksud di sini bukan berada pada arus waktu. Ia bebas dari arus masa lampau atau masa depan.
Dalam diri anda ada berbagai timbunan ingatan masa lampau. Masa lampau ini bisa berupa kenangan pahit atau manis. Semua pikiran anda adalah timbunan masa lampau. Sering anda terjebak dalam emosi atau pikiran masa lampau sehingga anda tidak bisa hadir sepenuhnya pada Saat Sekarang. Kenangan masa lampau meninggalkan rasa terluka, benci, amarah, konflik atau rasa senang dan puas.
Bayangan masa depan juga menjauhkan anda dari Saat Sekarang. Kegelisahan atau ketakutan anda alami karena bayangan masa depan yang mungkin akan terjadi tidak sesuai dengan harapan anda. Ketenangan dan kedamaian sementara bisa anda raih saat anda membayangkan masa depan sesuai dengan harapan anda.
Masa lampau atau masa depan bukan realitas terdalam Keberadaan anda. Keberadaan anda hanya pada Saat Sekarang. Masa lampau telah lewat. Ia bukan lagi kenyataan. Masa depan belum terjadi. Ia juga bukan kenyataan. Saat Sekarang adalah satu-satunya Kenyataan itu. Untuk bisa masuk pada Saat Sekarang, anda perlu membebaskan diri dari arus waktu.
Arus Pikiran dan Ketidaksadaran
Pikiran merupakan isi dari masa lampau dan masa depan. Ia bukan Saat Sekarang. Pikiran adalah arus waktu. Ia memisah-misahkan dan menjauhkan anda dari Saat Sekarang.
Kesadaran bekerja tidak tergantung pikiran. Kesadaran merupakan nyala api Saat Sekarang. Arus kesadaran merupakan arus di luar waktu. Kesadaran menyatukan. Ia menyatukan pikiran, perasaan, kehendak, tindakan dan keseluruhan diri anda.
Saat anda tidak sadar, anda terjebak pada arus pikiran dan waktu. Anda pernah merasa kurang, tidak lengkap, kurang sempurna, takut, gelisah, cemas, mudah marah, benci, terluka, dst. Semua itu menjadi tanda bahwa anda tidak sadar. Kalau anda sadar, anda bebas dari mesin pikiran dan waktu.
Pikiran telah menciptakan banyak mesin kehancuran di muka bumi. Mesin pemiskinan, ketidakadilan, kekerasan tidak lain adalah ciptaan pikiran. Ketidaksadaran kolektif telah melahirkan pikiran yang menghancurkan wajah kemanusiaan dan alam semesta ini.
Kalau anda tidak sadar, anda sudah ikut dalam arus penghancuran itu. Kalau anda sadar, anda mampu memotong mesin penghancuran itu.
Apa Kata Sang Guru?
Yesus berdoa kepada Bapa agar para muridNya memperoleh Keabadian atau Hidup Kekal. Hidup kekal itu adalah mengenal dan hidup dalam kesatuan dengan Kristus, seperti Bapa dan Kristus adalah Satu (Yoh 17:2-3,22-23). Dan Saat Sekarang adalah Kehidupan Kekal itu.
Bukankah Yesus mengajari para muridNya untuk berdoa mohon rejeki pada Hari Ini atau rejeki Saat Sekarang dalam doa Bapa Kami? Bukankah Ia mengingatkan anda supaya melepas segala kekuatiran akan masa depan? “Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:34) “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat 6:27) Bukankah Ia mengingatkan anda untuk melepas masa lampau? “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Lukas 9:62) Bukankah Ia mengajar anda untuk belajar dari burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diurus oleh Bapa di sorga? (Bdk Mat 6:26) Anda juga diajak untuk belajar dari bunga bakung di ladang, yang hari ini ada dan besok di buang ke dalam api, namun demikian didandani Allah? (Bdk Mat 6:30)
Latihan Menyadari Saat Sekarang
Hambatan terbesar untuk memasuki Saat Sekarang adalah identifikasi diri dengan waktu. Karena ketidaksadaran, anda terombang-mabing di permukaan arus waktu. Anda mengalami duka, kepedihan, kekhawatiran atau kesenangan dan kepuasan. Namun pada Keberadaan yang paling dalam di luar waktu, Anda tidak kekurangan suatu apapun. Anda sudah penuh, lengkap dan sempurna. Dalam Keberadaan Saat Sekarang anda menemukan damai dan ketenangan melampaui dualitas benci dan cinta, suka dan duka, sengsara dan bahagia.
Masa lampau (kenangan pahit atau kenangan manis) bukanlah aku
Aku bukanlah masa lampau
Aku tidak terjebak pada masa lampau
Masa depan (bayangan buruk atau bayangan baik) bukanlah aku
Aku bukanlah masa depan
Aku tidak terjebak pada masa depan
Saat Sekarang adalah arus di luar waktu
Saat Sekarang aku telah lengkap dan sempurna
Aku hidup dalam kepenuhan bersama Kristus Tuhanku.*
Pada hari Minggu yang lalu tanggal 29 Juni ketika saya pergi keluar kota, saya ke gereja St. Paulus dimana pada tanggal tersebut adalah HR. St. Petrus dan St. Paulus, sehingga misa yang diadakan dipimpin oleh 2 orang romo dan seorang frater. Sungguh meriah dan sukacita. Diakhir sebelum penutupan misa, dilepas sepasang burung merpati.
Usai misa ada saresehan dengan memotong tumpeng.
Oya memperingati HR St. Paulus sekaligus juga dicanangkannya Hari St. Paulus selama setahun kedepan.
*
Friday, July 4, 2008
Read More..
Minggu, 29 Juni 2008
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”.Itulah kesaksian iman St. Paulus, yang dengan semangat, sepenuh hati, menyerahkan jiwa dan raganya bagi Tuhan dalam pewartaan Injil. Ia percaya, Tuhan Yesus yang memanggilnya, adalah Tuhan yang menyelamatkannya. Iman yang teguh dan tangguh dijalani juga oleh St. Petrus. Ia mengimani Yesus sebagai Sang Mesias, Putera Allah. Dengan imannya, Ia menjadi ‘batu karang’ Gereja, dimana Kristus mempercayakan karya-karya keselamatanNya. Mari, kita ikuti teladan Rasul Petrus dan Paulus, mengimani Tuhan Yesus, dengan sepenuh hati dan sungguh menjadi pewarta-pewarta kasihNya. * Read More..
