Thursday, June 19, 2008

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on April 12th, 2008

Berbagai reaksi muncul ketika orang didera oleh kesedihan. Ada bagian dari diri kita yang menggerakkan kita untuk lari. Kita lalu mencari obat penenang. Ia bisa bernama obat bius, obat intelektual, obat ritual, obat kedokteran, obat kesenangan, dst. Ada bagian dari diri kita yang ingin melawan. Dan ada juga bagian dari diri kita yang ingin mengintip kesedihan dengan mencari berbagai pembenaran, penyalahan, pembandingan, penilaian, dst.

Semua daya upaya kita untuk lari, melawan dan memahami kesedihan tidak membuat kesedihan berakhir. Sedih seperti halnya gembira adalah sebuah fakta kehidupan. Ia adalah bagian dari hidup. Karenanya segala daya upaya untuk lari atau melawan merupakan bentuk lain pelarian dari hidup.

Dalam penampakan diri di jalan ke Emaus, Yesus mengajak dua orang muridNya untuk kembali berjalan bersama sedih. Dua orang murid Yesus ini sedang mengalami kekecewaan, sedih dan putus asa. Mereka sedih karena Yesus yang mereka harap-harapkan akan menjadi pembebas bangsa Israel, dibunuh oleh para pemuka agama dan pemimpin Yahudi. Perjalan ke Emaus merupakan bentuk pelarian dan perlawanan terhadap fakta kesedihan yang mereka hadapi. Di tengah perjalanan menuju ke kampung Emaus itulah Yesus menampakkan diri sebagai seorang Musafir. Ia menemani dua muridNya ini berjalan bersama sedih. Mereka mengalami bahwa hatinya berkobar-kobar saat Sang Musafir hadir dan menjelaskan misteri sengsara dan kebangkitanNya. Mereka akhirnya mengenali bahwa Sang Musafir yang menemaninya tidak lain adalah Yesus sendiri. (Bdk Lukas 24:13-35)

Yesus bertindak bukan hanya seperti seorang therapist, tetapi terlebih sebagai transformist. Ia bukan hanya menolong muridNya untuk keluar dari kesedihan, tetapi lebih jauh mengtransformir kesedihan dan mengalirkan kekuatan kebangkitan. Murid-muridNya bukan hanya disembuhkan dari sedih, tapi mampu berjalan mengatasi dualitas sedih dan gembira, suka dan duka, sengsara dan bahagia.

Kisah dua murid Emaus adalah gambaran kisah umat manusia. Kalau kita rela hati untuk berjalan bersama sedih tanpa lekat padanya, maka kita akan tahu apa artinya hidup melampaui dualitas sedih dan gembira. Sesuatu atau seseorang yang hidup dalam diri kita, Kristus yang Hidup, Sang Musafir itu, akan mengobarkan hati dan budi, memberikan pencerahan-pencerahan yang tidak mampu ditangkap oleh kecerdasan otak biasa. Lalu kita akan melihat bukan saja bahwa kesedihan kita berhenti total, tetapi lebih jauh kita digerakkan oleh kekuatan lain yang mengatasi dualitas sedih dan gembira.

Sekarang kontemplasikan kisah perjalanan dua murid ke Emaus sebagai kisah perjalanan anda sendiri.
Setelah anda duduk tenang dan relaks, pertama-tama, sadarilah hadirnya tamu dalam hidup anda. Namanya sedih. Ia seringkali datang dan membuat anda menangis, tak berdaya, gelisah, putus asa, dst. Anda hanya perlu menyelami sedih sedalam-dalamnya tanpa berpikir, membuat penilaian, menganalisa dst. Hanya menatap dalam-dalam. Menyelami sedalam-dalamnya. Sadarilah saat munculnya gerakan-gerakan batin untuk melawan atau lari daripadanya dan kembalilah untuk menatap dalam-dalam.

Kemudian sadarilah bahwa dalam diri anda juga hadir Sang Musafir yang tidak anda kenal. Ia, bagi dua murid Emaus, tidak lain adalah Yesus yang bangkit. Bagi anda, Ia adalah Kristus yang hidup. Biarkan Ia bersama anda menatap sedih sedalam-dalamnya. Kini dengarkan Sang Musafir itu berbisik, “Halo Sedih, apa khabar? Aku datang khusus bagimu. Ijinkan Aku menemanimu.”

Rasakan dalam-dalam Sang Musafir yang tak-dikenal dalam diri anda sedang menemani tamu yang anda kenal yakni sedih. Biarkan sedih berkisah tentang dirinya dan sadarilah Sang Musafir itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah sedih cukup puas bertutur, kini dengarkan Sang Musafir bertutur tentang DiriNya dan lihatlah sedih mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kini sadarilah gerakan halus Sang Musafir yang seperti Cahaya melingkupi anda secara sempurna. Anda ditarik masuk lebih dalam pada Titik Cahaya terdalam pada diri anda. Dari Titik Cahaya itulah kini anda memandang segala sesuatu dari perspektif yang berbeda. Anda mampu memandang realitas di balik dualitas sedih dan gembira, suka dan duka. Kini anda memandang bahwa sedih atau duka tidak lagi membuat anda menangis dan tak berdaya. Justru sebaliknya, anda melihatnya dari perspektif yang betul-betul baru.

Tutuplah kontemplasi anda dengan berdialog dengan Sang Musafir itu. Ungkapkan syukur dan terimakasih karena telah hadir dan mengubah hidup anda. Sedih dulu datang dan kini telah pergi. Tapi Sang Musafir hidup dan tinggal menetap dalam diri anda. Kini anda bebas melanjutkan perjalanan anda bersama Sang Musafir yang hadir seperti Titik Cahaya. Kalau sedih suatu saat masih datang, anda tahu bagaimana anda akan berjalan bersamanya. Ia yang datang pasti akan pergi. Tetapi Titik Cahaya tidak pernah datang dan tidak akan pergi; Ia tinggal menetap dalam diri anda.

Luangkan waktu dan rasakan secukupnya Keheningan yang melingkupi anda. Anda tidak merasa perlu lagi bertutur kata. Hanya diam dengan batin yang betul-betul hening bersama Titik Cahaya yang menetap pada diri anda.*