Wednesday, June 11, 2008

Read More..

By Rm. J. Sudrijanta, SJ on February 11th, 2008

Tuhan Tidak Kurang sebagai Seorang Pribadi sekaligus Melebihi Seorang Pribadi
Bagi orang Kristiani, Tuhan sering digambarkan sebagai seorang pribadi. Memang Dia tidak kurang sebagai seorang pribadi. Karenanya, orang bisa berkomunikasi dengan Tuhan layaknya sebagai sahabat, bapa, ibu, laki-laki, perempuan, dst.

Namun kalau masuk dalam relasi dengan Tuhan secara lebih dalam, Tuhan tidak cukup digambarkan sebagai seorang pribadi. Ia melebihi gambaran seorang pribadi.

Lihatlah hubungan yang begitu dekat antara ikan dengan air. Ikan itu dilingkupi oleh air. Bahkan dalam diri ikan, terdapat unsur-unsur air. Tanpa air, ikan tak mungkin bisa hidup, bergerak dan ada.

Manusia adalah seperti ikan dan Tuhan adalah seperti lautan air. Tuhan melingkupi manusia secara menyeluruh dan mendalam. Ia ada di dalam sekaligus di luar diri manusia. Ia ada di mana-mana secara umum dan tidak ada di mana-mana secara khusus. Tanpa Tuhan, manusia tak mungkin bisa hidup, bergerak dan ada.

Masalahnya, mengapa banyak orang mengalami kesulitan untuk bertemu Tuhannya? Kuncinya ada pada kesadaran. Kalau orang tidak sadar bahwa Tuhan adalah fondasi hidupnya, bagaimana ia bisa mengalami Tuhan secara mendalam dalam dirinya?

Dimanakah Tuhan?
Anda sering bertanya: ketika aku sedih, dimanakah Tuhan? Ketika aku gembira, dimanakah Tuhan? Ketika aku didera luka dan derita, dimanakah Tuhan? Ketika aku mengalami damai dan pembebasan, dimanakah Tuhan?

Orang sering mencari Tuhan di luar dirinya. Padahal Tuhan sudah ada di dalam dirinya dan melingkupi dirinya. Dialah yang memungkinkan manusia hidup, bergerak dan ada.
Segala sesuatu yang kita butuhkan untuk tetap hidup sudah tersedia di hadapan kita duapuluh empat jam setiap hari. Ia bisa bernama udara, air, api, bumi, sinar matahari, nafas, dst. Apakah kita bisa menikmati bersihnya udara, segarnya air, hangatnya sinar matahari, indahnya nafas dan seterusnya? Semuanya bergantung pada kesadaran. Kalau tak pernah tersadar, maka kita tidak tahu bagaimana menikmati realitas kosmis itu. Kita belum sungguh-sungguh menikmati kehidupan dan apa yang membuat kita tetap hidup.

Tuhan juga tersedia bagi kita duapuluh empat jam setiap hari. Kemampuan kita untuk menjamahNya bergantung pada kesadaran kita.

Energi Tuhan
Dalam tradisi Kekristenan, Roh Kudus adalah Energi Tuhan sendiri yang dicurahkan dalam diri setiap orang. Roh Kudus itulah yang membimbing orang pada kebenaran dan mengantar orang mengalami kepenuhan kebenaran. (Yoh 16:13)

Dalam tradisi timur, Kesadaran Murni dipandang setara dengan Roh Kudus. Hidup dalam Kesadaran berarti peduli dan menikmati gerak kehidupan setiap hari apa adanya; peduli dan menikmati setiap gerak pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan apa adanya.

Kesadaran Kristiani adalah hidup peduli dan menikmati setiap moment kehidupan bahwa Tuhan selalu terlibat dalam hidup kita duapuluh empat jam setiap hari. Untuk dapat menjamah Tuhan dalam setiap moment kehidupan harian, hanya dibutuhkan Energi Kesadaran sebagai Energi Tuhan sendiri.

Dua Dimensi, Satu Realitas
Lihatlah ombak di pantai. Anda lihat ada ombak putih atau ombak berwarna, besar atau kecil, tinggi atau pendek, kuat atau lemah. Semua ombak akhirnya akan jatuh ke permukaan air. Tidak peduli ia besar atau kecil, tinggi atau pendek, kuat atau lemah. Semua kembali ke air di bawah.

Apa fondasi dari ombak? Air adalah fondasi ombak. Tanpa air tidak ada ombak yang demikian; tanpa ombak juga tidak ada air yang demikian.

Kesatuan antara manusia dan Tuhan begitu erat seperti kesatuan antara ombak dan air. Anda adalah seperti ombak dan Tuhan anda adalah seperti air. Seperti halnya ombak tak bisa dipisahkan dari air, begitu pula anda tak bisa dipisahkan dari Tuhan. Seperti ombak, anda sering gelisah, iri, bingung, tegang ketika anda membandingkan diri ombak anda dengan ombak yang lain. Ombak yang lain tidak bisa menjadi fondasi yang kuat bagi hidup anda. Seperti air bagi ombak, Tuhan adalah fondasi yang kuat. Di sanalah anda menemukan ketenangan, kedamaian, kebebasan dan kekuatan.

Ombak bagi air adalah dunia fenomena. Kita bisa menangkap dengan panca indra semua makhluk di dunia fenomena. Ia bisa bernama udara, orang, sahabat, keluarga, kursi, rumah, pohon, gunung, hewan, iklan, pakaian, TV, komputer, dst. Dengan konsep-konsep, orang bisa mendeskripsikan dunia fenomena secara tepat. Misalnya, tentang fenomena udara. Dengan mengukur tingkat polusi, kita bisa menyimpulkan bahwa udara yang kita hirup di kota Jakarta lebih kotor sedang udara di kawasan Puncak lebih bersih.

Air bagi ombak adalah dunia neumena. Dunia neumena berada pada “struktur-dalam” dunia fenomena. Ia adalah fondasi, substansi atau jantung hati dari dunia fenomena. Pengalaman akan dunia neumena tidak bisa dijelaskan sepenuhnya dengan konsep dan kategori. Namun bisa digambarkan melalui symbol-simbol. Misalnya, orang bisa mengalami kelegaan dan penyembuhan ketika menghirup udara dan menjamah fondasi udara (the ground of the air) dengan nafas yang dalam, entah udara Jakarta atau Kawasan Puncak. Kelegaan dan penyembuhan itu bisa dialami saat itu juga sebagai pengalaman akan Roh Kudus atau pengalaman Energi Kesadaran Murni.

Contoh lain adalah nafas. Dalam dunia fenomena, orang bisa membuat pembedaan-pembedaan: nafas perut atau dada, nafas pendek atau panjang, tarikan nafas atau keluaran nafas, nafas bau atau nafas harum. Dalam dunia neumena, orang hanya bernafas dengan penuh kesadaran. Tidak peduli orang bernafas di pinggir jalan yang penuh polusi atau di ruangan ber-AC. Di sana orang bisa bersatu dengan nafasnya secara penuh sampai nafasnya menghilang dengan sendirinya. Kemudian orang mengalami kebebasan, kedamaian dan keindahan. Di sanalah ia menjamah fondasi nafasnya (the ground of breathing): Spiritualitas Timur menyebutnya Energi Kesadaran Murni dan Spiritualitas Kristiani menyebutnya Energi Tuhan atau Roh Kudus. Tuhan Allah menghembuskan Nafas hidup sehingga manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej 2: 7). Orang bisa menyadari bahwa Tuhanlah yang bernafas dalam dirinya, setiap saat, setiap moment.

Roh Kudus atau Energi Kesadaran Murni bisa dijamah ketika orang peduli dan memberi perhatian yang mendalam pada dunia fenomena. Dengan perhatian yang mendalam, dunia neumena akan terkuak dan pengalaman kesatuan dengan Roh Kudus atau Energi Kesadaran Murni dalam kehidupan sehari-hari menjadi mungkin.

Kita menjamah dunia neumena dengan menjamah dunia fenomena secara mendalam. Tidak ada jalan untuk menjamah Tuhan dengan menolak segala sesuatu di dalam dan di luar diri kita: dunia fisik, pikiran, perasaan, formasi mental, kesadaran. Kalau ombak dibuang, air tidak bisa kita jamah. Kalau segala sesuatu di dalam dan di luar diri kita dibuang, Tuhan tidak bisa kita jamah.

Fenomena Yesus, Neumena kristus
Bagi orang-orang pada jamanNya, Yesus merupakan sebuah fenomena. Ia adalah seorang guru yang mengajar dengan penuh kuasa; penyembuh dari segala penyakit dan kelemahan; pembela anak-anak, perempuan dan fakir miskin; seorang pemberani yang suka melontarkan kritik pedas terhadap para pembesar agama dan penguasa politik yang korup. Kata orang, Yesus disejajarkan dengan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi (Mat 16:13-14).

Namun Petrus mampu memahami Yesus bukan sekedar sebagai fenomena. Ia bukan sekedar sebagai guru yang hebat, penyembuh ulung, pembela kaum miskin, aktivis perubahan. Petrus menangkap bahwa dalam diri Yesus ada dimensi spiritual. Ia adalah Orang yang Terurapi atau Kristus (bahasa Yunani) atau Mesias (bahasa Ibrani. Ia adalah juga sebuah neumena: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:15)

Banyak orang di Galilea ingin mengikuti Yesus, namun tidak sedikit yang mengundurkan diri. Mengapa? Yesus memperkenalkan diri bahwa Dia adalah roti yang turun dari surga (Yoh 6:41). Ia bermaksud mengatakan bahwa diriNya bukan sekedar fenomena tapi juga neumena. Namun orang-orang Yahudi hanya menangkap Yesus sebatas fenomena: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapaNya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?” (Yoh 6:42)

Olah Kesadaran, Bukan Olah Pikiran
Orang seringkali hanya berhenti pada pikiran dan hidup sebatas fenomena. Orang punya berbagai pikiran tentang Tuhan. Tuhan itu manis, baik, adil, penuh kuasa, dst. Namun orang tidak sungguh-sungguh mau menikmati manisnya Tuhan. Orang puas berpikir bahwa Tuhan itu manis, namun tidak sungguh-sungguh menikmati manisnya Tuhan.

Ambilah sebuah apel dan taruhlah di telapak tangan anda. Seperti apa rasanya buah apel tersebut? Anda berpikir bahwa buah apel itu manis. Namun pikiran tidak sama dengan kesadaran. Sadar dan merasakan manisnya buah apel itu berbeda dengan berpikir tentang manisnya buah apel.

Menjamah Tuhan tidak bisa dicapai dengan olah pikiran, tapi membutuhkan praktek atau latihan kesadaran. Latihan ini bisa dilakukan dalam kesibukan sehari-hari. Ambil contoh praktek kesadaran makan. Ada dua cara orang makan. Pertama, makan supaya tidak lapar lagi, sehat, kuat, dst. Kedua, makan supaya makan. Banyak orang menghidupi pola pertama. Orang makan tidak sungguh-sungguh makan karena dikejar oleh pikiran masa lampau atau pikiran masa depan. Tidak seperti pola kedua, saat makan sesungguhnya orang hanya makan pikirannya sendiri, bukan sungguh-sungguh makan dengan penuh kesadaran. Orang dikejar oleh fenomena masa lampau atau masa depan. Kalau orang tidak sungguh-sungguh sadar dan menikmati saat makan sekarang dan di sini, bagaimana mungkin orang mampu menyentuh fondasi makan?

Latihan dalam menggunakan Energi Kesadaran pada setiap moment kehidupan harian perlu terus-menerus dilakukan. Mengapa? Karena kecenderungan jaman untuk mengikuti pikiran sering lebih kuat daripada kesadaran.

Kita seringkali hidup hanya mengikuti pikiran yang terus bergerak dan berubah-ubah. Diri kita mudah tersandra pada dunia fenomena. Ini membuat kita justru bergerak menjauh dari hati kita dan sering tidak konsisten dengan gerakan hati kita. Energi untuk terus bergerak-berpindah (Energy of restlessness) dan inkonsisten (energy of inconsistency) ini begitu kuat mengakar dalam peradaban kita dan sudah menjadi kebiasaan (habit).

Maka upaya teratur untuk berefleksi dan bertanya menjadi penting. Pertama, apakah kita masih memegang control dunia fenomena di sekitar kita dan bukan sebaliknya? Kedua, adakah kebiasaan yang perlu dihentikan atau diubah?

Anda bisa mulai mencoba memberikan perhatian atau peduli pada kebiasaan-kebiasaan anda selama periode tertentu dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan itu selama periode tertentu sejauh tidak ada orang lain yang dirugikan. Langkah ini akan membantu menguak “struktur dalam” dunia neumena dan pada saatnya akan memberikan perspektif yang segar dalam berelasi dengan “struktur luar” dunia fenomena.

Jamahlah fondasi dunia fenomena! Jamahlah Tuhan dalam hidup harian anda! Seperti apakah Dia?*

-o0o-